Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak | Klinik Terapi Pengobatan Bekam Panggilan di Jakarta Selatan Timur Utara Selatan Pusat

Klinik Terapi Bekam Panggilan di Jakarta Selatan Timur Utara Barat Pusat


Terapi Bekam Jakarta

Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak 0

Abu Qanun | Selasa, April 17, 2012
Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak
Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia dalam mengarungi kancah kehidupan selalu bertemu dengan berbagai permasalahan yang ia hadapi, ia datang ke dunia dengan membawa pesan fitrah dan pengakuan akan kemakhlukan dirinya, sembari terus bergerak dan berupaya menemukan ketentraman dan kepuasaan akan solusi atas permasalahan yang menghampirinya setiap waktu tatkala ia masih berada di alam dunia. Masalah demi masalah dijalani dan dipecahkan oleh manusia, sampai suatu masa, Allah swt. menurunkan Islam sebagai sebuah solusi ilahi untuk semua makhluk, dari titik ini pula manusia ternyata –oleh Islam– dituntut untuk meyakini secara pasti sumber pokok ajarannya –sebagai syarat– agar bangunan syariat yang telah Islam anugerahkan dapat dibangun dengan kokoh dan konsisten.
Ketika bangunan sudah kuat, maka akan tampak syariat dengan berbagai aturannya dalam memberi solusi atas problem-problem yang menimpa manusia, dengan syariah itu pula manusia terus berkreasi sampai peradaban Islam terbentuk dengan gemilang. Inilah gambaran akidah Islam, karena itulah menurut Hafidz Abdurrahman, Allah swt. sebenarnya telah memberikan perumpamaan terkait masalah bangunan akidah tersebut dalam al-Quran yang mulia:
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
Apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid)-nya di atas dasar ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya itu yang baik ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam? (TQS. at-Taubah [9]: 109)

Mengenai ayat tersebut, Hafidz Abdurrahman memberikan penjelasan:

Konteks ayat ini memang berkaitan dengan bangunan masjid, tetapi bangunan masjid di sini ada yang merupakan produk ketakwaan kepada Allah dan keridhaan-Nya, dan ada yang tidak. Allah menyatakan, bahwa produk yang dihasilkan dengan landasan takwa dan keridhaan-Nya adalah produk yang kokoh, demikian sebaliknya. Ini artinya, jika bangunan fisik saja dilandasi oleh akidah—yang dinyatakan sebagai faktor ketakwaan dan keridhaan-Nya—akan menjadi bangunan yang kokoh, lalu bagaimana dengan bangunan non-fisik yang jauh lebih kompleks ketimbang bangunan fisik? Karena itu, ayat ini juga membuktikan, bahwa akidah Islam ini merupakan pondasi kehidupan, baik kehidupan individu, masyarakat maupun negara, sekaligus merupakan sumber kebangkitan, yang akan menentukan kualitas umat ini.[1]
Akhirnya akidah Islam menjadi sebuah pemikiran bagi suatu perkara pijakan dasar ketika manusia akan melakukan perbuatan di dunia. Namun pepatah mengatakan ‘tidak ada orang yang sempurna’, sebagai entitas makhluk, manusia ternyata memiliki potensi-potensi untuk melakukan kesalahan pula, termasuk dalam perkara keyakinan, berbagai penyimpangan terjadi dari masa ke masa –baik sengaja maupun tidak sengaja– sampai sekarang kita bisa lihat di berbagai media cetak dan elektronik, bagaimana banyaknya aliran-aliran yang menyimpang dari akidah Islam yang shahih –sebagaimana pernyataan MUI– dibiarkan merajalela, seolah-olah kaum muslimin yang diklaim memiliki banyak sumber daya spiritual, mulai dari Kiyai, Ulama, Ustadz dan Santri seolah-olah tidak memiliki daya dan upaya (baca: lemah) untuk mencegah kerusakan akidah umat tersebut. Karenanya optimisme kaum muslimin dengan akidahnya, seharusnya semakin memunculkan ide-ide brilian untuk bisa bersama-sama menyelesaikan problem kontemporer di bidang akidah atau keimanan tersebut.
Selanjutnya dalam perkara cabang syariah, ternyata Islam telah mengajarkan akhlak kepada kaum muslimin, sehingga akhlak –sebagaimana akidah– memiliki peran penting dalam kehidupan kaum muslimin, karenanya ia merupakan perwujudan kebaikan antar individu jika ia akhlak mahmudah (terpuji), akan tetapi jika ia merupakan akhlak madzmumah (tercela) maka pergaulan sosial pun biasanya menjadi tidak harmonis dan terganggu.
Dalam konteks ini Rasulullah saw. pernah memperingatkan betapa pentingnya akhlak terpuji, beliau bersabda:
كَرَمُ الرَّجُلِ دِينُهُ وَمُرُوْءَتُهُ عَقْلُهُ وَحَسَبُهُ خُلُقُهُ
Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatan) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukan adalah akhlaknya (HR. Ahmad dan Al-Hakim) [2]

Selain itu Rasulullah saw. juga memperingatkan agar umat Islam menjauhi akhlak yang tercela, beliau bersabda:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ هِمَّتُهُمْ بُطُوْنُهُمْ، وَشَرَفُهُمْ مَتَاعُهُمْ  وَقِبْلَتُهُمْ نِسَاءُهُمْ، وَدِيْنُهُمْ دَرَاهِمُهُمْ وَدَنَانِيْرُهُمْ، أُولَئِكَ شَرُّ الْخَلْقِ، لاَخَلاَقَ لَهُمْ عِنْدَ اللهِ
Akan tiba suatu zaman atas manusia dimana perhatian mereka hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan mereka hanya benda semata-mata, kiblat mereka hanya urusan wanita (seks) dan agama mereka adalah harta emas dan perak. Mereka adalah makhluk Allah swt yang terburuk dan tidak akan memperoleh bagian yang menyenangkan di sisi Allah swt. (HR. Adailami) [3]
Nampaknya hadits tersebut seolah-olah menggambarkan kondisi bangsa kita saat ini, sebuah survei yang dilakukan oleh BKKBN pada tahun 2008 di 33 provinsi melaporkan bahwa: 63 % remaja Indonesia usia sekolah SLTP/SMP dan SLTA/SMA sudah melakukan hubungan seksual diluar nikah dan 21 % diantaranya telah melakukan aborsi (JawaPos, 21/12/08).[4] Inilah problem akhlak (baca: moral) yang dialami oleh masyarakat Indonesia.
Sebenarnya sudah banyak sekali karya-karya intelektual yang berbicara seputar keimanan atau akidah yang tentunya bertujuan untuk menyelesaikan permasalah yang terkait dengan akidah atau keimanan tersebut, baik dari ulama salaf, khalaf maupun para ulama muta’akhirin, hingga sampailah pada masa pasca runtuhnya Khilafah Islamiyah di Turki pada tahun 1924 M. Pada masa ini munculah para pembaharu pemikiran, termasuk salah satunya Syaikh Al-Allamah Taqiyuddin An-Nabhani seorang ulama mujtahid dari palestina, ia telah menyusun berbagai karya termasuk dalam bidang akidah atau keimanan, dan juga sekaligus memberikan kritik terhadap karya-karya pada masa sebelumnya, tak hanya itu ia pun telah menjelaskan kedudukan akhlak dalam pandangan syariah, sehingga menjadi jelaslah korelasi antara akidah dan akhlak. Akidah adalah dasar sedangkan akhlak adalah cabang hukum syariah yang berkenaan dengan sifat-sifat terpuji yang mesti dimiliki oleh kaum muslimin.
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan tersebut, maka penulis yang berangkat dari latar belakang pendidikan, merasa tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul “Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak”.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah penulis kemukakan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut:
  1. Bagaimana pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah?
  2. Bagaimana pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akhlak?
  3. Bagaimana metodologi pembelajaran akidah dan akhlak menurut Taqiyuddin An-Nabhani?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Untuk mengetahui pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah?
  2. Untuk mengetahui pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akhlak?
  3. Untuk mengetahui metodologi pembelajaran akidah dan akhlak menurut Taqiyuddin An-Nabhani?
D. Kerangka Pemikiran
Islam merupakan agama yang benar (al-haq), Allah swt. telah menjamin bagi siapa pun (manusia) yang memeluknya dengan sebenar-benarnya, pasti akan ditolong bahkan dimenangkan atas (agama) yang lainnya, dalam konteks ini Allah swt. berjanji dalam al-Quran:
وَعَدَ اللهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى الأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِى ارْتَضٰى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا, يَعْبُدُونَنِى لاَيُشْرِكُونَ بِى شَيئاً, وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذٰلِكَ فَأًلٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS. an-Nûr [24]: 55) [5]
al-Islâm secara etimologis (bahasa), menurut Imam al-Bajuri adalah:
مطلق الإنقياد أي سواء كان للأحكام الشرعية أو لغيرها
Ketundukan mutlak, baik terhadap hukum syariah atau hukum selain syariah [6]

Adapun secara terminologis (syara’), Imam al-Bajuri menjelaskan:
الإنقياد للأحكام الشرعية وقيل الإسلام هو العمل انتهى
(Islam adalah) Tunduk/ patuh terhadap hukum-hukum syariah, dengan kata lain Islam adalah amal yang terakhir (yang dilakukan sampai sempurna semua rukunnya). [7]
Menurut Imam al-Jurjani, Islam adalah:
الخضوع والانقياد، لما أخبر به الرسول صلى الله عليه وسلم
Tunduk dan patuh terhadap informasi yang dibawa Rasulullah saw. [8]
Menurut Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin:
الدين الذي بعث الله به محمدا (صلي) ختم الله به الأديان وأكمله لعباده وأتم به عليهم النعنة ورضيه لهم دينا
Din/ Agama yang Muhammad diutus oleh Allah swt untuk membawanya, dengan agama itu Allah swt. menutup ajaran-ajaran agama yang lain, juga sebagai (agama) penyempurna bagi hamba-hamba-Nya, untuk mencukupkan nikmat-Nya, dan sebagai Agama yang diridhai Allah swt. [9]

Adapun menurut Taqiyuddin An-Nabhani dalam Nizhâm al-Islâm:
الدين الذي أنزله الله على سيدنا محمدٍ (صلى) لتنظيم علاقة الإنسان بخالقه، وبنفسه، وبغيره من بني الإنسان. وعلاقة الإنسان بخالقه تشمل العقائد والعبادات، وعلاقته بنفسه تشمل الأخلاق والمطعومات والملبوسات، وعلاقته بغيره من بني الإنسان تشمل المعاملات والعقوبات.
(Islam merupakan) agama yang diturunkan Allah swt. kepada Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dirinya sendiri, dan sesama manusia. Hubungan manusia dengan Tuhannya meliputi masalah aqidah (keyakinan/ keimanan) dan ibadah. Hubungan manusia dengan dirinya sendiri meliputi akhlaq, makanan-minuman (yang dikonsumsinya), dan pakaian yang dikenakannya. Adapaun hubungan manusia dengan sesamanya meliputi mu’amalah dan uqubat (hukum pidana/ sanksi). [10]

Dari sini An-Nabhani telah mendefinisiskan Islam dengan definisi yang lebih lengkap, jelas dan lebih mudah dipahami dari beberapa definisi ulama sebelumnya, ruang lingkupnya meliputi semua aspek kehidupan, yakni:
  1. Aturan manusia dengan penciptanya, berupa akidah / keyakinan dan Ibadah.
  2. Aturan manusia dengan dirinya sendiri, berupa akhlak, makanan-minuman dan pakaian.
  3. Aturan manusia dengan sesama manusia, berupa muamalah dan uqubat (hukum pidana Islam) dan lain sebagainya.
Hal tersebut sesuai dengan firman Allah swt. dalam surat an-Nahl ayat 89:
وَنَزَّلْـنَا عَلَيْكَ اْلكِتَابَ تِبْـيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS. An-Nahl [16]: 89)
Artinya Islam meliputi semua perkara dengan penjelasan yang sempurna terhadap perkara yang memang diperlukan manusia (untuk aturan hidupnya).[11] Tentu sebagaimana penjelasan An-Nabhani diatas, maka sudah pasti Islam telah memberikan aturan-aturan yang jelas tentang perkara akidah atau keimanan dan masalah akhlak, karena itulah kita pasti mendapati semua keterangan tentang akidah atau keimanan beserta akhlak dalam dalil-dalil syariah, karenanya Rasulullah saw. telah bersabda:
تَرَكْتُ فِيْكُمْ  أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِ اللهِ
Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya yakni kitab Allah swt (al-Quran) dan Sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim) [12]

Jadi untuk memahami akidah dan akhlak dalam khazanah Islam memerlukan pendefinisian (at-ta’rîf). Maka Imam al-Jurjani telah mendefinisikan at-ta’rîf sebagai berikut:
عبارة عن ذكر شيء تستلزم معرفته معرفة شيءٍ آخر
Ungkapan tentang suatu (objek yang diamati), yang untuk mengetahuinya diperlukan pengetahuan yang lain (yang terkait dengannya). [13]
Dalam mendalami hakikat akidah dan akhlak beserta hal yang terkait dengannya, maka menurut Hafidz Abdurrahman, definisi (at-ta’rîf) yang benar ialah deskripsi realitas yang bersifat komprehensif dan protektif, artinya definisi itu harus menyeluruh meliputi seluruh aspek yang dideskripsikan (dibahas), dan memproteksi (mencegah) sifat-sifat di luar substansi yang dideskripsikan.[14]
Artinya ketika membahas akidah dan akhlak, maka pembahasannya harus meliputi seluruh gambaran tentang akidah dan akhlak dalam Islam beserta dalilnya, juga dalam waktu yang bersamaan harus dapat memproteksi istilah akidah dan akhlak, dari pembahasan yang tidak terkait dengannya, yang biasanya ruang lingkup batasan tersebut telah di terangkan oleh para pakar atau para ulama.
Terahir dalam konteks pendidikan, perlu diketahui pula metodologi pembelajaran akidah dan akhlak, agar para peserta didik mampu memahami sekaligus mengamalkan kedua khazanah Islam tersebut. Menurut Abu Yasin metode pengajaran yang benar adalah dengan penyampaian (khitab) dan penerimaan (talaqqiy) pemikiran dari pengajar kepada pelajar, sedangkan instrumennya adalah akal manusia.[15] Adapun dalam konteks Islam, metode Islam dalam pembelajaran menurut Taqiyuddin An-Nabhani adalah:
التعمق في البحث، والاعتقاد بها يتوصل إليه من البحث أو بها يبحثه، واخذ ذلك واقعيا لتطبيقه في معترك الحياة
  1. 1. Mendalam pada pembahasannya
  2. 2. Meyakini terhadap hasil yang dicapai dari (dasar) pembahasan maupun terhadap perkara yang dibahas
  3. 3. Fakta (hasil proses pembelajaran) tersebut di ambil untuk dilaksanakan (secara praktis) dalam kancah kehidupan.[16]
Inilah kerangka pemikiran yang digunakan oleh penulis dalam memecahkan masalah penelitian ini, bahwa akidah dan akhlak merupakan khazanah Islam, sehingga meniscayakan adanya pendefinisian, yang pada klimaksnya akidah dan akhlak tersebut –dalam konteks pendidikan– memerlukan suatu metode, agar transfer of knowledge and value sampai kepada objek yang dituju, yang sudah pasti semuanya sangat penting untuk diketahui.
  1. E. Langkah-Langkah Penelitian
Langkah-langkah penelitian yang akan penulis lakukan dalam penelitian ini meliputi:
  1. 1. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah content analysis (analisis isi), menurut Bisri metode tersebut digunakan dalam penelitian normatif, seperti penelitian mengenai teks al-Quran dan pemikiran ulama di dalam berbagai kitab fikih, yang dianalisis dengan menggunakan kaidah-kaidah bahasa atau kaidah-kaidah lain yang telah dikenal, seperti mantik, kaidah ushul, dan kaidah fikih.[17] Dengan metode ini, penelitian dikonsentrasikan pada pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak beserta metodologi pembelajaran keduanya.
  1. 2. Jenis Data
Jenis data adalah jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan terhadap masalah yang dirumuskan dan pada tujuan yang telah ditetapkan.[18] Data terbagi dua, data kualitatif –yang berbentuk kata-kata– dan data kuantitatif –data yang berbentuk angka atau bilangan–. [19] Dalam penelitian ini, data yang dijadikan bahan penelitian adalah data kualitatif yang diambil dari literatur kepustakaan, yakni pendapat Taqiyuddin An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak, beserta metodologi pembelajaran keduanya.
  1. 3. Sumber data
Sumber data terbagi dua yakni, data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung (data asli). [20] Secara rinci dalam penelitian ini data primer yang digunakan adalah karya Taqiyuddin An-Nabhani, sebagai berikut:
  1. 1. An-Nizhâm al-Islâm (bab Tharîq al-îmân dan al-Akhlâq)
  2. 2. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Juz al-Awwal (bab ‘Aqidah Islamiyah dan Tharîqah Islam Fi ad-Dars)
  3. 3. Mitsâq al-Ummah (point ‘Iman dan Mujtama’)
  4. 4. Mafâhim Hizb at-Tahrîr (point ‘Aqîdah dan al-Akhlâq)
Sedangkan data sekunder, adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti adalah tangan kedua).[21] Data sekunder dalam penelitian ini diambil dari buku-buku yang tentunya mendukung data primer.
  1. 4. Pengumpulan Data
Pada umumnya pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa metode, baik yang bersifat alternatif maupun kumulatif yang saling melengkapi. Dalam skripsi ini, metode pengumpulan data yang dipakai adalah studi kepustakaan, karena penelitian ini bersifat normatif yang bersumber dari bahan bacaan dengan penelaahan naskah.[22] Dalam tataran praktis, penyusun mengumpulkan data dari kepustakaan atau literatur karya An-Nabhani dan sumber-sumber literatur yang relevan.
  1. 5. Analisis Data
Menurut Bisri,[23] pada dasarnya analisis data (baca: kualitatif) merupakan penguraian data melalui tahapan: kategorisasi dan klasifikasi, perbandingan, dan pencarian hubungan antar peubah. Sehingga dalam penelitian ini penulis telah melakukan beberapa tahapan, yakni:
Tahap pertama, menyeleksi data yang terkumpul, kemudian diklasifikasikan menurut kategori tertentu, dalam konteks ini pendapat dibagi dua, yakni pemahaman Taqiyuddin An-Nabhani terhadap Akidah dan pemahaman-nya terhadap Akhlak.
Tahap kedua, memahami dan mengkorelasikan hasil pemahaman An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak, dengan sumber hukum Islam yakni al-Quran dan as-Sunnah, dan juga memahami landasan atau metodologi An-Nabhani dalam menghasilkan pemahaman tersebut.
Tahap ketiga, mencari hubungan antara pemahaman An-Nabhani terkait akidah dan akhlak dengan metodologi pembelajaran akidah dan akhlak tersebut, kemudian akhirnya ditarik kesimpulan dari beberapa tahapan tersebut.

BAB II
AKIDAH DAN AKHLAK
A. Definisi Akidah
Menurut Yusuf Sukriy Farhat, akidah secara etimologis (bahasa) berasal dari ‘aqada – ya’qid[u] – ‘aqd[an], yang berarti: rabatha (mengikat), ahkam asy-syai’ (mengerjakan secara sempurna/ menguatkan), bana’ al-’aqd (membuat akad/ simpul), dhamina (menjamin/ menanggung), atsmara (berbuah) dan takatstsafa (tebal/ keras/ kasar).[24] Menurut Muhammad Maghfur, dapat disimpulkan secara etimologis akidah merupakan sesuatu yang diikat, dibenarkan, diyakini atau dipastikan hati.[25]
Adapun dari segi penggunaan istilah, menurut Hafidz Abdurrahman –ketika mengutip Mahmud Syalthut– akidah dan iman memiliki konotasi yang sama. Bedanya, istilah ‘aqîdah ini digunakan oleh ulama Ushuluddin, sedangkan istilah îmân digunakan oleh al-Quran dan al-Hadits, sebab al-Quran dan al-Hadits tidak menggunakan istilah akidah namun hanya menggunakan istilah iman.[26]
Dalam realitasnya, para ulama telah mendefinisikan akidah atau iman dengan beragam pendapat sebagai berikut :
Menurut Abdul Lathif dalam at-Tawhîd, akidah adalah :
الأمور التي تصدق بها النفوس، وتطمئن إليها القلوب وتكون يقينا عند أصحابها لا شك فيها ولا ريب
Perkara-perkara yang dibenarkan oleh jiwa, (lalu) hati menjadi tenang, dan orang yang memeluknya menjadi yakin tanpa syak dan ragu. [27]
Menurut Al-Atsariy dalam al-Wajîz fi al-’Aqîdah :
الأمور التي يجب أن يُصَدِّقَ بها القلب ، وتطمئن إِليها النفس ، حتى تكون يقينا ثابتا لا يمازجها ريب ، ولا يخالطها شك
Perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hati, yang jiwa tenang karenanya, hingga menjadi keyakinan yang kokoh tanpa tercampur keraguan dan kebimbangan. [28]
Menurut Muhammad Qal’ajiy dalam Mu’jam Lughah al-Fuqahâ :
الايمان :ارتباط القلب بما انطوى عليه ولزمه…… العقيدة: بفتح العين ج عقائد، ما عقد عليه القلب واطمأن إليه
Iman adalah terpautnya kalbu terhadap perkara yang memenuhi dan menetapinya …… Akidah (difatahkan huruf ‘ain) jamaknya ‘aqâid, adalah sesuatu yang diyakini hati dan ia merasa tentram terhadapnya. [29]
Menurut Imam Nawawi al-Jawi dalam Syarh Safînah, iman adalah :
التصديق بجميع ماجاء به محمد (صلي) بما علم من الدين بالضرورة لا مطلقا
Pembenaran terhadap semua hal yang dibawa oleh Muhamamd saw. terkait dengan ilmu agama yang sudah pasti kebenarannya, dan bukan terhadap perkara selain itu. [30]
Menurut Imam al-Jurjani dalam at-Ta’rîfât :
الاعتقاد بالقلب والإقرار باللسان. وقيل: من شهد وعمل ولم يعتقد فهو منافق، ومن شهد ولم يعمل واعتقد فهو فاسق، ومن أخل بالشهادة فهو كافر
(Iman adalah) meyakini dengan hati dan mengikrarkan dengan ucapan. Implikasinya, orang yang bersaksi dan beramal namun tidak meyakini ia adalah orang munafik, lalu orang yang bersaksi namun tidak beramal dan meyakini ia adalah orang fasik, adapun orang yang melanggar kesaksiannya (syahadat) maka ia adalah orang yang kafir. [31]
Menurut Muhammad Husain Abdullah dalam Dirâsât fi al-Fikr :
الفكر ة الكلية عن الكون والإنسان والحياة، وعما قبل الحياة، وعما بعدها، وعن علاقتها بما قبلها وما بعدها
(Akidah adalah) pemikiran yang menyeluruh tentang alam, manusia, kehidupan, (lalu) tentang apa yang ada sebelum kehidupan, (serta) apa yang ada setelah kehidupan, dan tentang hubungan sebelum dan setelah kehidupan tersebut. [32]
Sebenarnya masih banyak pendapat terkait istilah akidah dan iman, akan tetapi pendapat diatas sekiranya cukup mewakili. Namun untuk memudahkan, Hafidz Abdurrahman telah merumuskan definisi umum tentang akidah sebagai berikut :
Akidah pemikiran menyeluruh mengenai manusia, kehidupan, serta hubungan diantara semuanya dengan apa yang ada sebelum kehidupan (Pencipta) dan setelah kehidupan (Hari Kiamat), serta mengenai hubungan semuanya dengan apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan (Syari’at dan Hisab), yang diyakini oleh kalbu (wijdân) dan diterima oleh akal, sehingga menjadi pembenaran (keyakinan) yang bulat, sesuai dengan realitas (yang diimani), dan bersumber dari dalil. [33]
Yang tak kalah penting, menurut Muhammad Husain Abdullah [34] syarat akidah atau keimanan yang benar harus meliputi dua perkara penting berikut ini :
Pertama, akidah tersebut harus sesuai dengan fitrah (potensi) yang ada dalam diri manusia, menenangkan/ menentramkan jiwa, dan memuaskan gharizah at-taqayyun (naluri beragama/ naluri yang merasa butuh terhadap sang Khaliq).
Kedua, harus sesuai dengan akal, maka agar akal manusia dapat puas tentu harus ada dalil yang menunjukan terhadap eksistensi perkara yang di yakini tersebut, baik akli maupun nakli secara proporsional dan sesuai konteks.
B. Ruang Lingkup Akidah
Akidah Islam adalah iman tentang adanya Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt. [35] Definisi tersebut merupakan perkara yang ma’lum min ad-din bi ad-darurah (perkara agama yang kebenarannya sudah pasti), karena semua ulama sudah melakukan kajian secara detail tentang rukun Iman tersebut. Karena itu bisa dirujuk dalam al-Quran dan al-Hadits :
ءَامَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ ءَامَنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَنُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ
Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (TQS. Al-Baqarah [2]: 285)

وَرَدَ فِي حَدِيْثِ طَوِيْلٍ : جِبْرِيْلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَسْأَلُ الرَّسُوْلَ (صلى) فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ ؟ قَالَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَالسَّلاَمُ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلاَئِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، قَالَ صَدَقْتَ
Dalam hadits yang panjang telah diriwayatkan : Jibril as. bertanya kepada Rasul saw., Beritahukan kepada saya tentang Iman ? Rasul saw. bersabda : Hendaklah engkau beriman kepada Allah swt., para Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir, dan hendaknya engkau pun beriman kepada Takdir yang baik dan yang buruknya, (Jibril as.) bekata kamu benar. (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan An-Nasai) [36]

1. Iman Kepada Allah swt.
Ruang lingkup iman kepada Allah swt. yakni beriman kepada wujud (eksistensi) Allah swt., juga kepada tauhid rububiyyah (keesaan ketuhanan), tauhid asmâ’ wa shifât (keesaan nama-nama dan sifat-Nya) –baik yang wajib, mustahil dan jaiz–, dan tauhid ulûhiyyah (keesaan ibadah). [37] Iman kepada wujud Allah swt. adalah, pengakuan secara fitrah mayoritas manusia kepada wujud (eksisnya) Allah swt., mereka pun tidak berselisih akan hal tersebut, kecuali orang-orang Atheis (anti tuhan).[38] Iman kepada Allah swt. dalam konteks rububiyyah (ketuhanan) adalah, meyakini bahwa Allah swt. pengatur (Rabb) segala sesuatu, penguasa, pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan – mematikan, yang memberi manfaat – mudharat, pemilik semua perkara termasuk semua kebaikan, tiada sesuatu kecuali terjadi karena (ketentuan) izinnya. [39]
Iman kepada Allah swt. dalam asmâ’ wa shifât (keesaan nama-nama dan sifat-Nya) –baik yang wajib, mustahil dan jaiz– adalah, Meyakini bahwa Allah swt. memiliki asmâ’ wa shifât (nama-nama dan sifat-sifat Nya) yang layak dan telah di tetapkan dalam al-Quran dan al-Hadits (untuk melukiskan diri-Nya). [40]
Iman kepada Allah swt. dalam ulûhiyyah (keesaan ibadah) adalah, meyakini bahwa hanya Allah swt. satu-satunya yang harus disembah baik secara zhahir maupun bathin, dengan tidak berbuat syirik kepada-Nya.[41] Ibadah merupakan penyerahan diri kepada Allah yang terwujud dalam kepatuhan kepada hukum-hukum-Nya, karenanya Allah swt. berfirman :
إِنِ اْلحُكْمُ إِلاَّ ِللهِ يَقُصُّ الْحَقَّ وَ هُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِيْنَ
Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik. (TQS. Al-An’âm [6]: 57) [42]
2. Iman Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat artinya, pembenaran yang pasti terhadap eksisnya malaikat, bahwa mereka termasuk ciptaan Allah swt., yang tidak pernah berbuat maksiat kepada-Nya, dan selalu melaksanakan perintah-Nya.
لاَ يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ
Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah Nya. (TQS. Al-Anbiyâ’ [21]: 27) [43]

Ruang lingkup iman kepada malaikat meliputi, iman kepada wjudnya, kepada nama-namanya, kepada sifat-sifatnya dan beriman terhadap tugas mereka yang telah Allah swt. dan Nabi saw. beritakan kepada umat.[44]
Beriman kepada sifat-sifat malaikat (yang memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan manusia) meliputi, bahwa malaikat makhluk ghaib, diciptakan dari cahaya (nûr) (HR. Muslim: 5314), mereka memiliki sayap (QS. Fâthir: 1), mereka bisa berubah bentuk menjadi manusia seperti kasus Jibril yang menjelma menjadi manusia ketika mendatangi Muhammad saw. untuk menyampaikan wahyu (Muslim : 9) dan lain-lain.[45]
Iman kepada nama-nama dan tugas-tugas malaikat meliputi –yang masyhur diantaranya–, Jibril as. penyampai wahyu, Malik as. penjaga neraka, Ridhwan penjaga surga, Malaikat Maut (Izrail), Mikail as. mengatur rezeki dan hujan, dua malaikat (Raqib dan Atid) pencatat amal (QS. Qâf: 18), dua malaikat (Munkar dan Nakir) yang berada di alam kubur, dan Israfil peniup sangkakala pada hari kiamat.[46]
3. Iman Kepada Kitab-Kitab
Iman kepada kitab-kitab adalah, pembenaran secara pasti, bahwa ia merupakan kalam Allah swt. yang diturunkan kepada utusan-utusan-Nya –dengan wahyu yang beragam kondisi–, semua yang dikandung kitab-kitab tersebut adalah benar –kecuali setelah di nasakh oleh al-Quran–.[47] Kitab-kitab tersebut adalah, al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, shuhuf Ibrahim dan Musa as., yang paling utama dari semuanya adalah, Taurat, Injil dan al-Quran, namun yang paling agung, utama dan penghapus (kitab-kitab semuanya) adalah al-Quran. Selain dihapus ajarannya oleh al-Quran, ternyata kitab-kitab yang lain tidak dijaga keontetikannya oleh Allah swt. bahkan para rahib-rahib mereka malah merusak dan menganti ajarannya. [48]
Ali al-Hasan mendefinisiskan Al-Qur’an sebagai: kalam Allah yang berupa mukjizat, diturunkan kepada Muhammad saw. dan dinukil kepada kita secara mutawatir, serta dinilai beribadah ketika membacanya.[49] Al-Quran merupakan kitab yang utama, karena mencakup hukum global akidah dan syariah Allah. Swt.
وَنَزَّلْـنَا عَلَيْكَ اْلكِتَابَ تِبْـيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (TQS. An-Nahl [16]: 89)
Rasulullah saw, bersabda :
تَرَكْتُ فِيْكُمْ  أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُوْلِ اللهِ
Aku telah tinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara, kalian tidak akan tersesat selama berpegang kepada keduanya yakni kitab Allah swt (al-Quran) dan Sunnah Rasulullah saw. (HR. Muslim) [50]
4. Iman Kepada Nabi dan Rasul Allah swt.
Iman kepada Nabi dan Rasul Allah swt. adalah, meyakini bahwa Allah swt. telah mengutus kepada setiap umat manusia, seorang lelaki sebagai utusan yang berdakwah menyampaikan wahyu dari Allah swt., agar manusia menyembah Allah swt., yang diawali oleh Adam as. dan ditutup oleh Nabi Muhammad saw. [51]
An-Nawawi Al-Jawi –ketika mengutip pendapat Syaikh ‘Athiyyah– telah merinci jumlah nabi dan rasul sebagai berikut, nabi berjumlah 124.000 orang, yang menjadi rasul sebanyak 313, 314 atau 315. Namun menurut beliau yang wajib diketahui hanya 25 orang yang tercantum dalam al-Quran.[52] Sedangkan yang ulul azmi –menurut Ibnu Abbas– yang  bersabar dan tabah, ada 5 orang: Muhammad saw., Ibrahim as., Musa as., Isa as., dan Nuh as.[53]
Terlepas dari perbedaan pendapat tentang rincian nabi dan rasul, yang pasti bahwa semua nabi diatas kebenaran, mereka semua sama-sama berdakwah untuk akidah tauhid, sebagaimana Allah swt. bersabda :
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [54] itu”, Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t. (TQS. An-Nahl [16]: 36)

Walau semua nabi dan rasul sama-sama ber-akidah tauhid, namun dalam konteks syariat furu’ (halal dan haram) mereka berbeda. Allah swt bersabda:
لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, kami berikan aturan dan jalan yang terang. (TQS. Al-Mâidah [5]: 48) [55]

5. Iman Kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir adalah, keyakinan pasti akan kedatangan hari akhir beserta kejadian-kejadiannya, termasuk tanda-tanda kehancuran sebelumnya, misal: kematian, fitnah kubur, azab dan nikmatnya, tiupan sangkakala, keluarnya makhluk dari kubur, lalu menghadapi al-qiyâmah dengan getir dan ketakutan, tercerai bererainya di (padang) al-mahsyar, pemberian lembaran (amal-amal), ditimbang pada mizan, juga ada shirath, al-haudh (telaga Nabi saw. bagi yang berhasil melewati shirath), juga ada syafa’at yang akan dilihatnya, surga beserta kenikmatannya –namun kenikmatan yang tertinggi adalah melihat wajah Allah swt-. Selanjutnya (bagi orang durhaka) ada neraka dan azabnya, –namun azab yang sangat keras adalah terhalangnya mereka (orang-orang durhaka) dari Rabb mereka.[56]
Termasuk pengaruh –ruang lingkup– keimanan kepada hari akhir adalah : Pertama, gemar dan bersungguh-sungguh dalam melakukan ketaatan terhadap syariah (karena) mengharap pahala pada hari tersebut. Kedua, takut dalam melakukan maksiat sembari menjauhi oknum-oknum pelakunya, karena takut akan siksa kubur. Ketiga, penghibur bagi kaum mukmin, karena mereka telah meninggalkan dunia yang penuh fitnah, sembari mereka mengharapkan akan nikmat dan pahala pada hari akhir.[57]
وَأَنَّ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ بِاْلأَخِرَةِ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيْمًا
Dan Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. (TQS. Al-Isrâ [17]: 10) [58]
6. Iman Kepada Takdir Allah swt. (Qadha’ maupun Qadar)
Qadha dan Qadar versi nash syariat, berbeda dengan pembahasan Qadha’ dan Qadar menurut para ulama mutakallimin. Dalam nash syariat Qadha’ tidak selalu disandingkan dengan Qadar.[59] Namun wajib bagi seorang muslim mengimani takdir –keduanya tersebut–, sesuai Sabda Rasulullah saw :
قَالَ (صَلَّى): أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ … … وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ
Rasul saw. bersabda : Hendaklah engkau beriman kepada Allah swt … …dan hendaknya engkau pun beriman kepada Takdir yang baik dan yang buruknya (itu semua dari Allah swt.) (HR. Muslim, At-Tirmidzi, Abu Dawud dan An-Nasai)

Pembahasan takdir (Qadar) dalam hadits tersebut adalah Ilmu Allah swt.[60] sedangkan takdir (Qadha’) –dalam ayat-ayat al-Quran– terkait sifat dan  perbuatan Allah swt.,[61] intinya Qadha’ maupun Qadar dalam nash syariat hanya berbicara tentang ilmu dan sifat Allah swt. yakni catatan (ilmu Allah) yang menyeluruh tentang segala sesuatu yang ada –baik benda, perbuatan dan semua makhluk– bahwa Allah maha mengetahui dan semuanya terangkum dalam Lauhul Mahfuzh.[62] Sedangkan masalah Qadha dan Qadar menurut mutakallimin adalah, berkaitan dengan perbuatan manusia –apakah bebas atau terpaksa oleh ilmu Allah swt– dan khasiyyat (karakteristik) benda yang digunakan manusia dalam melakukan perbuatan –memaksa perbuatan atau tidak–.[63]
Inilah ruang ringkup akidah Islam, beriman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt.
C. Definisi Akhlak
Menurut Yusuf Sukriy Farhat, secara etimologis akhlak merupakan bentuk plural dari al-khulq dan al-khuluq, yang berasal dari khalaq – yakhluq[u] – khalqah wa khalq[an], yang berarti: awjada (mewujudkan/ mengadakan), abda’a (menciptakan). sedangkan al-khulq dan al-khuluq itu sendiri berarti: ath-thab’ (tabiat), al-’adâh (adat/ karakter).[64] Secara terminologis (istilah) akhlak adalah:
Menurut Imam al-Ghazali:
فالخلق عبارة عن هيئة في النفس راسخة، عنها تصدر الأفعال بسهولة ويسر من غير حاجة إلى فكر وروية
Al-khuluq adalah ungkapan kondisi jiwa yang terdalam, yang darinya melahirkan perilaku secara spontan tanpa perlu pemikiran dan analisis. [65]
Menurut Muhammad Husain Abdullah:
الأخلاق اصطلاحا: هي الصفات التي أمر الله المسلم أن يتصف بها عند قيامه بأعماله
Akhlak adalah sifat-sifat yang diperintahkan oleh Allah swt. kepada seorang muslim, agar ketika ia berbuat menggunakan sifat tersebut. [66]
Adapun menurut pendapat beberapa ahli tafsir mu’tabar, ketika menafsirkan firman Allah swt.:
وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (TQS. Al-Qalam [69]: 4)

Menurut Imam Ath-Thabariy[67]:
يقول تعالى ذكر لنبيه محمد (صلى) : وإنك يا محمد لعلى أدب عظيم، وذلك أدب القرآن الذي أدّبه الله به، وهو الإسلام وشرائعه …. ذُكر لنا أن سعيد بن هشام سأل عائشة عن خُلُق رسول الله (صلى) فقالت: ألست تقرأ القرآن؟ قال: قلت: بلى، قالت: فإن خُلُق رسول الله صلى الله عليه وسلم كان القرآن.
Allah swt. berfirman kepada Nabi Muhammad saw.: dan sesungguhnya engkau wahai Muhammad benar-benar memiliki adab yang agung, dan adab tersebut adalah al-Quran yang telah Allah swt. ajarkan, yakni Islam dan Syariat-Nya ….. diberitakan pada kami bahwa Sa’id Ibn Hisyam pernah bertanya kepada ‘Aisyah r.ah. tentang perangai Rasulullah saw., maka beliau menjawab: Tidakkah Kamu membaca al-Qur’an?, Sa’id berkata: aku menjawab: betul aku membaca al-Qur’an, ‘Aisyah r.ah. berkata: Sesungguhnya khuluq (perangai) Rasul saw. adalah al-Qur’an itu sendiri.
Menurut Imam Ibnu Katsir[68] riwayat-riwayat yang berbicara tentang khuluq Rasul saw. –sama dengan al-Qur’an– maksudnya ialah:
ومعنى هذا أنه، عليه السلام، صار امتثالُ القرآن، أمرًا ونهيًا، سجية له، وخلقًا تَطَبَّعَه، وترك طبعه الجِبِلِّي، فمهما أمره القرآن فعله، ومهما نهاه عنه تركه. هذا مع ما جَبَله الله عليه من الخلق العظيم، من الحياء والكرم والشجاعة، والصفح والحلم، وكل خلق جميل
Maknanya Rasul saw. adalah seperti/ serupa al-Qur’an, baik perintahnya, larangannya, karakter yang beliau miliki, tabiat perangai, dan beliau tidak memiliki karakter al-jibilly (manusia biasa), sehingga apa yang al-Qur’an perintahkan beliau lakukan dan  yang dilarang beliau tinggalkan. Karenanya Allah swt. telah menganugerahkan perangai yang agung, berupa sifat pemalu, terhormat, pemberani, pemaaf, lembut, dan semua perangai yang indah.

Lafadz khuluq dalam ayat tersebut menurut Imam Al-Mahally dan Asy-Suyuthi adalah: dîn (agama),[69]dan Sesungguhnya kamu benar-benar (memiliki) agama / din/ ajaran yang agung. sehingga makna ayat tersebut adalah,
Jadi akhlak menurut al-Ghazali, naluri yang bersifat fitrah (mirip makna bahasa), menurut imam mufassir akhlak adalah ajaran Islam (ad-dîn, syariat), menurut Husain Abdullah akhlak adalah sifat yang terpuji (mirip makan ‘urf).
D. Ruang Lingkup Akhlak
Muhammad Husain Abdullah mendefinisikan akhlak sebagai sifat-sifat yang diperintahkan oleh Allah swt. (yang terdapat pada dalil-dalil syariah) kepada seorang muslim, agar ketika ia berbuat menggunakan sifat tersebut. Karena itulah, standar baik dan buruk suatu perangai sangat ditentukan oleh dalil syariat, kaidah syariah mengatakan:
اْلأَصْلُ فِى اْلأَفْعَالِ التَّقَيُّدُ (بِحُكْمِ الشَّرعِى)
Hukum asal perbuatan adalah terikat dengan hukum syara’ (wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram) [70]
Perangai atau akhlak dikatakan baik jika sesuai dengan syariat, sedangkan perangai yang buruk adalah yang tidak sesuai dengan syariat. Karenanya akhlak dapat dibedakan menjadi dua bagian, yakni akhlak yang sesuai dengan syariat atau akhlak mahmudah (mulia/ terpuji), dan akhlak yang tidak sesuai syariat atau akhlak madzmumah (tercela).[71] Dalam istilah Imam Nawawi al-Jawi, akhlak terpuji terkait dengan pengaruh keimanan, sedangkan akhlak tercela merupakan akibat perbuatan maksiat.[72] Diantara contoh- contoh sifat terpuji adalah:[73]
  1. Malu (al-Haya)
اَلْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ
Malu tidak akan mendatangkan sesuatu pun kecuali kebaikan. (Mutafaq ‘Alaih)

  1. Menahan Diri, Tidak Cepat Marah dan Lemah-lembut
اَللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئاً فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ
Ya Allah, siapa saja yang menjadi pengatur (wali) dari urusan umatku, kemudian ia memberatkan mereka, maka beratkanlah ia. Siapa saja yang menjadi pengatur (wali) dari urusan umatku, kemudian ia lemah-lembut kepada mereka, maka lemah lembutlah Engkau kepadanya. (HR. Muslim)
  1. Jujur
عَلَيْكُمْ بِصِدْقِ، فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ، وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ…
Jujurlah kalian, karena kejujuran akan bersama dengan kebaikan dan keduanya akan ada di surga.(HR. Ibnu Hibban)

  1. Mengecek Kebenaran yang Disampaikan dan Cermat Menyampaikannya
وَلاَتَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya… (TQS. al-Isra [17]: 36)
  1. Bertutur-kata dengan Baik
وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ
Perkataan yang baik adalah shadaqah. (Mutafaq ‘alaih)
  1. Menampakkan Wajah Berseri
لاَتَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئاً وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلَقٍ
Engkau jangan menyepelekan kebaikan sedikit pun, meski hanya sekadar bertemu saudaramu dengan wajah yang berseri-seri. (HR. Muslim)

  1. Diam Kecuali dalam Kebaikan
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam. (Mutafaq ‘alaih)
  1. Memenuhi Janji
وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولاً
Dan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawaban. (TQS. al-Isra [17]: 34)

  1. Marah Karena Allah swt.
كَسَانِيَ الرَّسُولُ (صلى) حُلَّةً سِيَرَاءَ، فَخَرَجْتُ فِيْهَا، فَرَأَيْتُ الْغَضَبَ فِيْ وَجْهِهِ، فَشَقَّقْتُهَا بَيْنَ نِسَائِي
Rasulullah saw. memberiku pakaian dengan perhiasan dari sutra yang halus, kemudian aku keluar dengan memakainya, maka aku melihat kemurkaan di wajahnya. Aku lalu merobek-robek pakaian itu di hadapan istri-istriku (Mutafaq ‘alaih)
10.  Berbaik Sangka kepada Orang Beriman
لَوْلاَ إِذْ سَمِعْـتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا
Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri,… (TQS. an-Nûr [24]: 12)

11.  Baik terhadap Tetangga
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوْصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang tetangga, hingga aku menduga bahwa jibril akan menjadikannya sebagai ahli waris. (Mutafaq ‘alaih)

12.  Amanah
إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya,…(TQS. an-Nisa [4]: 58)
13.  Wara’ (hati-hati) dan Meninggalkan Syubhat
فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، خَيْرُ دِيْنِكُمُ الْوَرَعُ
Keutamaan ilmu lebih baik dari keutamaan ibadah. Sebaik-baiknya agama kalian adalah wara’. (HR. ath-Thabrâni dan al-Bazzâr)
14.  Memuliakan Ulama, Orang Tua, dan Orang yang Memiliki Keutamaan
إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللهِ إِكْرَامُ ذِي الشَيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلُ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَلاَ الْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامُ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ
Termasuk memuliakan Allah adalah memuliakan orang tua muslim, memuliakan pengemban al-Quran yang tidak melampaui batas dan tidak menentangnya. Juga memuliakan penguasa yang berbuat adil. (Abû Dawud)

15.  Mengutamakan dan Menolong Orang Lain
مَنْ أَصْبَحَ وَهَمُّهُ غَيْرُ اللهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ وَمَنْ لَمْ يَهْتَمْ لِلْمُسْلِمِيْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ
Siapa yang bangun di pagi hari dan perhatiannya kepada selain Allah, maka ia tidak berurusan dengan Allah sedikit pun, dan barang siapa (yang bangun di pagi hari) tidak memperhatikan (urusan) kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan kaum muslimin. (HR. Al-Hâkim no. 8016)

16.  Berderma dan Infak di Jalan Kebaikan
قَالَ اللهُ تَعَالَى : أَنْفِقُ يَا ابْنَ آدَمَ أُنْفِقْ عَلَيْكَ
Allah swt. Berfirman: Wahai Manusia, berinfaklah niscaya Aku akan berinfak kepadamu. (Mutafaq ‘alaih)

17.  Berpaling dari Orang-orang Bodoh
وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ
Dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (TQS. al-A’râf [7]: 199)
18.  Taat Dalam Kebaikan, dan lain-lain
اَلسَّعَادَةُ كُلُّ السَّعَادَةِ طُوْلُ الْعُمُرِ فِي طَاعَةِ اللهِ
Kebahagiaan yang paling bahagia adalah panjang umur dalam ketaatan kepada Allah swt. (HR. Al-Qadha’i dalam asy-Syihab no. 302, dalam Kasyf al-Khufa dikatakan hadits ini hasan lighairihi) [74]

مَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُعْطِـهُ إِنِ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ اْلآخَرِ
Siapa saja yang telah membaiat (mengangkat) seorang Imam (khalifah) lalu memberikan uluran tangan dan buah hatinya, hendaknya ia menaati semampunya, dan jika datang orang lain yang hendak mengambil alih kekuasaannya, penggallah leher orang itu. (HR. Muslim no. 3431)

لاَطَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَّةِ الْخَالِقِ
Tiada kataatan pada makhluk dalam bermaksiat kepada pencipta (Allah swt.) (HR. Ahmad dan Al-Hâkim)
Adapun akhlak yang tercela dan dilarang oleh syara’, contohnya adalah[75] :
  1. Dusta, Tidak Menepati Janji dan Mengkhianati Perjanjian
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Tanda-tanda orang munafik ada tiga, apabila berbicara ia dusta, jika diberi amanat ia berkhianat, dan jika berjanji ia tidak menepati. (Mutafaq ‘alaih)

  1. Berkata Kotor dan Jorok, Banyak Bicara yang Dibuat-buat, Merendahkan Martabat Sesama Muslim, Mengolok-ngolok dan Mencemooh Kaum Muslim, Memaki dan Melaknat (kecuali untuk orang kafir hukumnya boleh)
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَانِ، وَلاَ اللَّعَانِ، وَلاَ الْفَاحِشِ، وَلاَ الْبَذِيْءِ
Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela dan melaknat; bukan orang yang keji dan bukan orang yang jorok perkataannya. (HR. At-Tirmidzi, hasan shahih)

  1. Gembira atas Kesusahan yang Menimpa Muslim yang Lain
لاَتُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ ِلأَخِيكَ، فَيَرْحَمُهُ وَيَبْتَلِيكَ
Engkau tidak boleh menampakkan rasa gembira atas kesusahan yang menimpa saudaramu. Bisa jadi Allah akan memberi rahmat kepadanya dan memberikan ujian kepadamu. (HR. At-Tirmidzi, hasan)

  1. Mengingat-ingat Pemberian dan Seluruh Kebaikan
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاَ تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَاْلأَذَى
Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan sipenerima),.. (TQS. al-Baqarah [2]: 264)

  1. Al-Hasud
لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَالَمْ يَتَحَاسَدُوا
Manusia akan senantiasa ada dalam kebaikan selama mereka tidak saling dengki. (HR. ath-Thabrâni, perawinya terpercaya)
  1. Menipu dan Makar
مَنْ غَشَّنَا فَلَيسَ مِنَّا، وَالْمَكَرُ وَالخَدَاعُ فِي النَّارِ
Siapa yang menipu kami, maka bukanlah golongan kami. Makar dan tipu daya itu tempatnya di neraka. (HR. Ibnu Hibban)
مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٍّ لِرَعِيَّتِهِ إِلاَّ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ
Tidaklah seorang hamba yang diserahi Allah untuk mengatur urusan rakyat kemudian ia mati dalam keadaan menipu rakyatnya kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya. (Mutafaq ‘alaih)

  1. Marah bukan karena Allah swt.
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرْعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ مَنْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Orang yang kuat bukanlah yang kuat karena berkelahi. Tapi orang yang kuat adalah orang yang bisa menguasai dirinya ketika akan marah. (Mutafaq ‘alaih)
  1. Berprasangka Buruk kepada kaum Muslim
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثٍمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa (TQS. al-Hujurat [48]: 12)

  1. Bermuka Dua
مَنْ كَانَ لَهُ وَجْهَانِ فِي الدُّنْيَا، كَانَ لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لِسَانَانِ مِنْ نَارٍ
Barangsiapa bermuka dua ketika di dunia, maka pada hari kiamat kelak akan diberi dua mulut dari api neraka. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

10.  Zhalim
اَلظُّلْمُ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Kezhaliman itu merupakan kegelapan-kegelapan pada hari kiamat (HR. Mutafaq ‘alaih)

11.  Berbeda antara Perkataan dan Perbuatan
مَثَلُ الَّذِي يُعَلِّمُ النَّاسَ الْخَيْرَ وَيُنْسِى نَفْسَهُ، كَمَثَلِ السِّرَاجِ يُضِيْءُ لِلنَّاسِ وَيَحْرِقُ نَفْسَهُ
Perumpamaan orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang dan melupakan dirinya sendiri adalah bagaikan lentera (lilin) yang menerangi orang, sementara dia sendiri terbakar. (HR. ath-Thabrâni)

12.  Sok Suci (kecuali Para Nabi, Ulama dan Menghindari Tuduhan)
فَلاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوُ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (TQS. An-Najm [53]: 32)

13.  Kikir
شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ، وَجُبْنٌ خَالِعٌ
Seburuk-buruk sifat yang ada pada diri seseorang adalah kikir lagi keluh kesah, dan sifat pengecut lagi mengumbar hawa nafsu. (HR. Ahmad)
14.  Bermusuh-musuhan
…وَلاَ تَدَابَرُوا… وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا
…Janganlah kalian saling bermusuhan …dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara…(Mutafaq ‘alaih)

15.  Berani Melakukan Dosa-dosa Kecil
إِيَّاكَ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللهِ طَالِبًا
Waspadalah terhadap dosa-dosa kecil, karena dia akan menjadi penuntut disisi Allah. (HR. An-Nasâi, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hibban)

16.  Menangguhkan Pembayaran Suatu Hak
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ …
Penangguhan atas orang yang mampu terhadap hak yang wajib dibayarnya adalah kezhaliman. (Mutafaq ‘alaih)
17.  Tidak Baik dalam Bertetangga
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّ فُلاَنَةً يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلاَتِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصِيَامِهَا، غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيْرَانَهَا بِـلِسَانِهَا، قَالَ: هِيَ فِي النَّارِ…
Ada seorang laki-laki berkata, “Wahai Raulullah, ada seorang wanita diceritakan memiliki banyak amalan shalat, sedekah dan shaum. Hanya saja ia suka menyakiti tetangganya dengan perkataannya.” Rasulullah saw. bersabda, “Wanita itu di neraka… (HR. Al-Bazzâr, Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

18.  Menggunjing (al-Ghibah wal Buht)
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُّهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
setiap muslim atas muslim yang lain haram darahnya, kehormatannya dan hartanya. (HR. Musim)

19.  Mengadu-domba (an-Namimah)
لاَتَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu-domba. (Mutafaq ‘alaih)

20.  Memutuskan Tali Silaturahmi
اَلرَّحْمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ: مَنْ وَصَلِيْ وَصَلَهُ اللهُ، وَمَنْ قَطَعَنِيْ قَطَعَهُ اللهُ
Rahim bergantung di ‘Arsy berkata: “Barangsiapa yang menyambungkan aku, maka Allah akan menyambungkannya, dan  barangsiapa yang memutuskan aku maka Allah akan memutuskannya.” (Mutafaq ‘alaih)

21.  Ingin Dilihat dan Ingin Didengar (Riya dan Tasmi)
يَسِيْرُ الرِّيَاسِ شِرْكٌ … …
Riya yang sedikit adalah syirik…… (HR. Ibnu Majah, al-Baihaqi dan al-Hakim)
مَنْ سَمَّعَ النَّاسَ بِعَمَلِهِ سَمَّعَ اللهُ بِهِ سَامِعَ خَلْقِهِ وَصَغَّرَهُ وَحَقَّرَهُ
Barangsiapa memperdengarkan amalnya kepada manusia, maka Allah akan memperdengarkan amalnya pada pendengaran seluruh makhluk Allah. Allah akan mengecilkan dan menghinakannya (di hari kiamat). (ath-Thabrâni dan al-Baihaqi)

22.  Takabur dan Ujub
أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ، كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَاعِفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ لأَبَرَّهُ. أَلاَ بِأَهْلِ النَّارِ، كُلُّ عُتُلِّ جَوَّاطٍ مُسْتَكْبِرٍ
Perlu aku beritahukan kepada kalian tentang ahli surga, yaitu setiap orang lemah yang menempatkan dirinya sebagai orang yang lemah. Andaikata ia bersumpah atas nama Allah, maka pasti ia akan melaksanakannya. Perlu aku beritahukan kepada kalian ahli neraka, yaitu setiap orang yang suka memaksa, yang suka berjalan dengan membusungkan dada dan orang yang sombong. (Mutafaq ‘alaih)
Inilah objek kajian atau ruang lingkup akhlak secara umum, yakni berbicara tentang perangai yang wajib dimiliki dan perilaku tercela yang mesti dijauhi oleh kaum muslimin.

BAB III
AKIDAH DAN AKHLAK
MENURUT TAQIYUDDIN AN-NABHANI
  1. A. Biografi Taqiyuddin An-Nabhani (1909 – 1977)[76]
Nama lengkapnya adalah Muhammad Taqiyuddin bin Ibrahim bin Musthafa bin Ismail bin Yusuf An-Nabhani. Nama An-Nabhani dinisbahkan kepada kabilah Bani Nabhan, kabilah Arab penghuni padang sahara di Palestina. Mereka bermukim di daerah Ijzim, wilayah Haifa, Palestina Utara.
Taqiyuddin An-Nabhani dilahirkan di daerah Ijzim pada tahun 1909 M. Beliau mendapat didikan ilmu dan agama di rumah dari ayah beliau sendiri yakni seorang pengajar ilmu-ilmu syariah di Kementerian Pendidikan Palestina. Beliau hafal Al-Qur’an seluruhnya di bawah usia 13 tahun. Ibu beliau juga menguasai beberapa cabang ilmu syariah, yang diperolehnya dari ayahnya yang bernama Syaikh Yusuf bin Ismail bin Yusuf An-Nabhani. Beliau ini adalah seorang qadhi (hakim), penyair, sastrawan, dan salah seorang ulama terkemuka dalam Daulah Utsmaniyah. Beliau banyak mendapat pengaruh dari kakek beliau, Syaikh Yusuf An-Nabhani, dan menimba ilmu beliau yang luas.
Beliau berpindah ke sekolah di Akka untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah. Sebelum beliau menamatkan sekolahnya di Akka, beliau telah bertolak ke Kairo meneruskan pendidikannya di Al-Azhar, atas anjuran kakeknya Syaikh Yusuf An-Nabhani.
Kemudian meneruskan pendidikannya di Tsanawiyah Al-Azhar tahun 1928 dan tahun yang sama beliau meraih ijazah dengan predikat sangat memuaskan.
Lalu melanjutkan studinya di Kulliyah Darul Ulum cabang Al-Azhar tamat pada tahun 1932. Pada tahun yang sama beliau menamatkan pula kuliahnya di Al-Azhar Asy-Syarif menurut sistem lama, di mana para mahasiswanya dapat memilih beberapa syaikh Al-Azhar dan menghadiri halaqah-halaqah mereka mengenai bahasa Arab dan ilmu-ilmu syariah seperti fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tauhid (ilmu kalam), dan yang sejenisnya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya, An-Nabhani kembali ke Palestina untuk bekerja di Kementerian Pendidikan Palestina sebagai seorang guru di sebuah sekolah menengah atas negeri di Haifa. Di samping itu beliau juga mengajar di sebuah Madrasah Islamiyah di Haifa.
Tahun 1940 beliau diangkat sebagai Musyawir (Asisten Qadhi) hingga tahun 1945, yakni saat beliau dipindah ke Ramallah untuk menjadi qadhi di Mahkamah Ramallah sampai tahun 1948. Setelah itu, beliau keluar dari Ramallah menuju Syam akibat jatuhnya Palestina ke tangan Yahudi la’natullah ‘alaihim.
Tahun 1948, beliau kembali ke Palestina diangkat sebagai qadhi di Mahkamah Syar’iyah Al-Quds. Kemudian diangkat sebagai anggota Mahkamah Isti’naf (Banding) sampai tahun 1950. Pada tahun 1950 inilah, beliau lalu mengajukan permohonan mengundurkan diri, karena beliau mencalonkan diri untuk menjadi anggota Majelis Niyabi (Majelis Perwakilan).
Pada tahun 1951, Syaikh An-Nabhani mendatangi kota Amman untuk menyampaikan ceramah-ceramahnya kepada para pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kulliyah Ilmiyah Islamiyah. Hal ini terus berlangsung sampai awal tahun 1953, ketika beliau mulai sibuk dalam Hizbut Tahrir, yang telah beliau rintis antara tahun 1949 hingga 1953.
Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani wafat tahun 1398 H/ 1977 M dan dikuburkan di Pekuburan Al-Auza’i di Beirut. Beliau telah meninggalkan kitab-kitab penting yang dapat dianggap sebagai kekayaan pemikiran yang tak ternilai harganya. Karya-karya beliau dapat dikatakan sebagai buah usaha keras pertama yang disajikan oleh seorang pemikir muslim pada era modern ini di dalam jenisnya.
Karya-karya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani yang paling terkenal, yang memuat pemikiran dan ijtihad beliau antara lain : (1) Nizham al-Islam (Peraturan Hidup Dalam Islam); (2) At-Takattul Al-Hizbi (Pembentukan Partai Politik Islam); (3) Mafahim Hizb at-Tahrir; (4) An-Nizham Iqthishadi fi al-Islam (Sistem Ekonomi Islam); (5) An-Nizhamul Ijtima’i fi al-Islam (Sistem Pergaulan Islam). (6) Nizham al-Hukm fi al-Islam (Sistem Pemerintahan Islam); (7) Ad Dustur (Undang-undang Dasar); (8) Muqaddimah Dustur (Pengantar Undang-undang Dasar); (9) Ad-Daulah al-Islamiyah (Negara Islam); (10) Asy-Syakhshiyah al-Islamiyah (Membentuk Kepribadian Islam, Jilid I Tsaqafah Islam; Jilid II Ilmu Fikih; Jilid III Ushul Fikih); (11) Mafahim Siyasiyah li Hizb at-Tahrir (Pemikiran-pemikiran Politik Hizbut Tahrir); (12) Nazharat Siyasiyah li Hizb at-Tahrir (Pandangan-pandangan Politik Hizbut Tahrir); (13) Nida’ Haar (Seruan Hangat Hizbut Tahrir Kepada Kaum Muslim); (14) Al-Khilafah (Sistem Khilafah Islam); (15) At-Tafkir (Hakikat Berpikir); (16) Ad-Dusiyah; (17) Sur’ah al-Badihah (Kecepatan Berpikir); (18) Nuqthah al-Inthilaq (Titik Tolak Perjuangan); (19) Dukhul al-Mujtama’ (Terjun Ke Masyarakat); (20) Inqadz Falisthin (Pembebasan Palestina); (21) Risalah al-Arab (Missi Arab); (22) Tasalluh Mishr; (23) Al-Ittifaqiyyah ats-Tsuna’iyyah al-Mishriyyah as-Suriyyah wa al-Yamaniyyah; (24) Hall Qadhiyah Falisthin ‘ala ath-Thariqah al-Amirikiyyah wa al-Inkiliziyyah; (25) Nazhariyah al-Faragh as-Siyasi Haula Masyru’ Aizanhawar.
Dan apabila karya-karya Taqiyuddin An-Nabhani tersebut ditelaah dengan seksama, terutama yang berkenaan dengan aspek hukum dan ilmu ushul, akan nampak bahwa beliau sesungguhnya adalah seorang mujtahid yang mengikuti metode para fuqaha dan mujtahidin terdahulu. Hanya saja, beliau tidak mengikuti salah satu aliran dalam ijtihad yang dikenal di kalangan Ahlus Sunnah. Artinya, beliau tidak mengikuti suatu madzhab tertentu di antara madzhab-madzhab fiqih yang telah dikenal, akan tetapi beliau memilih dan menetapkan (men-tabanni) ushul fiqih tersendiri yang khusus baginya, lalu atas dasar itu beliau mengistinbath hukum-hukum syara’. Namun perlu diingat di sini bahwa ushul fiqih Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani tidaklah keluar dari metode fiqih Sunni, yang membatasi dalil-dalil syar’i pada al-Kitab, as-Sunnah, Ijma’ Shahabat, dan Qiyas Syar’iy, yakni Qiyas yang illat-nya terdapat dalam nash-nash syara’ semata.[77]
  1. B. Pemahaman Akidah Menurut Taqiyuddin An-Nabhani
Pemahaman Taqiyuddin an-Nabhani terkait akidah dan keimanan tidak bergitu berbeda dengan para ulama terdahulu, akan tetapi pada sebagian pembahasan beliau mendetilkan dan men-sistematiskan, sebagai berikut:
العقيدة الإسلامية هي الإيمان بالله وملائكتة وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقضاء والقدر خيرهما وشرهما من الله تعالى
Akidah Islam adalah iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt.[78]
العقيدة والإعتقاد بمعنى واحد، هي الإيمان، والإيمان التصديق الجازم المطابق للواقع عن دليل
Akidah dan al-I’tiqâd sama maknanya yakni iman, dan iman artinya adalah: pembenaran secara pasti (bulat), (yang diimani) sesuai dengan keyataan, (semuanya) berdasarkan dalil (bukti/ baik dalil akli maupun nakli).[79]
Karenanya jika pembenaran bukan berasal dari dalil, niscaya tidak akan ada ke-Imanan. Sebab tidak akan ada pembenaran yang pasti kecuali jika pembenaran tersebut bersumber dari dalil. Tatkala belum ada dalil, tidak akan datang kepastian terhadap apa yang di-Imani, sehingga pembenaran saja terhadap khabar dari berbagai khabar sejatinya (hal itu) tidaklah dianggap sebagai Ke-Imanan. Karena itu setiap perkara yang dituntut oleh ke-Imanan mesti terdapat dalil, hingga menjadi pembenaran terhadap ke-Imanan. Artinya, adanya dalil merupakan syarat mendasar eksisnya ke-Imanan, tanpa memandang dalil tersebut benar atau salah. Dalil sendiri adakalnya secara akli (akal) atau nakli (menukil), jika objek dapat diindra maka dalilnya akli, namun sebaliknya jika objeknya gaib dalilnya nakli.[80]
Ruang lingkup akidah Islam yang dibahas oleh An-Nabhani –mengenai pembuktian adanya Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt.– terlihat lebih menekankan dalil aqli (akal), terutama pada empat objek keimanan yakni beriman kepada wujud (eksisnya) Allah swt., terhadap kebenaran al-Quran dari Allah swt., Rasul saw., dan Qadha – Qadar. Selebihnya keimanan objek-objek ghaib, seperti terhadap sifat-sifat Allah swt, Malaikat, Nabi dan Rasul selain Muhammad saw., Kitab-kitab sebelum al-Quran, dan Hari Kiamat, dalilnya adalah naqli (menukil dari al-Quran atau Hadits Mutawatir).[81]
Dalil ‘Aqli Iman Kepada Allah swt. (al-Khâliq)
على أنّ كل من كان له عقل، يدرك من مجرّد وجود الأشياء التي  يقع عليها حسّه، أنّ لها خالقاً خلقها، لأن المشاهد فيها جميعها أنها ناقصة، وعاجزة ومحتاجة لغير ها، فهي مخلوقة قطعا. ولذلك يكفي أن يلفت النظر إلى أي شيء في كون والحياة والإنسان ليستدلّ به على وجود الخالق المدبر… وقد وردت مئات الآيات في هذا معى. قالى في سورة آل عمران: ( إِنَّ فيِ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ َلآيَاتٍ ِّلأُوْلِى اْلأَلْبَابِ ) .
Setiap (manusia) yang mempunyai akal, hanya dengan mengindra segala sesuatu yang dapat (terjangkau) oleh indranya, (ia akan paham) bahwa ada sang pencipta (al-khaliq / Allah swt) yang menciptakan sesuatu, karena, segala fenomena tersebut seluruhnya bersifat terbatas, lemah dan membutuhkan (menyandarkan) kepada yang lain, jika keadaan segala sesuatu seperti itu, secara pasti ia adalah makhluk (ciptaan Allah swt). Karena itu cukup memalingkan (mengarahkan) pandangan kepada segala sesuatu di alam semesta, kehidupan dan manusia, agar dengan pandangan tersebut menunjukan adanya al-Khaliq al-Mudabbir (Allah swt)… Nampaknya, telah turun juga ratusan ayat al-Quran dalam konteks ini. (salah satu contohnya) Allah swt berfirman dalam surat Ali Imran (Ayat: 190) : “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi juga pergantian siang dan malam, sungguh terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki akal “. [82]
Dalil ‘Aqli Kebenaran Al-Quran Berasal dari Allah swt.
وأما ثبوت كون القرآن من عند الله، فهو أنّ القرآن كتاب عربي جاءبه محمد عليه الصلاة والسلام. فهو إما أن بكون من العرب وإما أن يكون من محمد، وإما أن يكون من الله تعالى. ولايمكن أن يكون من غير واحد من هؤلاء الثلاثة، لأنه عربي اللغة والأسلوب. أما أنه من العرب فباطل لأنه تحداّهم أن يأتوا بمثله: ( قُلْ فَأْتُوا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهِ )، ( قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةِ مِثْلِهِ )، وقد حاولوا أن يأتوا بمثله وعجزوا عن ذلك. فهو إذن ليس من كلامهم، لعجزهم عن الإتيا بمثله مع تحديه لهم ومحاولتهم الإتيان بمثله. وأما أنه من محمد فباطل، لأن محمداً عربي من العرب، ومهما سما العبقري فهو من البشر وواحد من مجتمعه وأمته، وما دام العرب لم يأتوا بمثله فيصدق على محمد العربي أنه لا يأتي بمثله فهو ليس منه، علاوة على أن لمحمد عليه الصلاة والسلام أحاديث صحيحة وأخر رويت عن طريق التواتر الذي يستحيل معه إلا الصدق، وإذا قورن أي حديث بأيـّة آية لايوجد بينهما تشابه في الأسلوب، وكان يتلو الآية المنزلة ويقول الحديث في وقت واحد، وبينهما اختلاف في الأسلوب، وكلام الرجل مهما حاول أن ينوّعه فإنه يتشابه في الأسلوب، لأنه صادراً منه. وبما أنه لايجد أي تشابه بين الحديث والآية في الأسلوب فلا يكون القرآن كلام محمد مطلقا، للاختلاف الوضح الصريح بينه وبين كلام محمد. على أن العرب قد ادعوْا أن محمدا يأتي بالقرآن من غلام نصراني اسمه (جبر) فرد الله تعالى عليهم بقوله : ( وَلَقَدْ نَعْلمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِى يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أعْجَمِىٌ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِىٌ مُبِينٌ )
Pembuktian al-Quran berasal dari Allah swt., (bisa dianalisis sebagai berikut), bahwa al-Quran kitab berbahasa Arab yang dibawa oleh Muhammad saw. (berdasarkan hal tersebut ada beberapa kemungkinan), al-Quran berasal dari orang Arab, berasal dari Muhammad saw., atau berasal dari Allah swt. dan tidak ada kemungkinan yang lain selain tiga hal tadi, sebab al-Quran (mempunyai) bahasa dan uslub (gramatikanya) Arab. Adapun kemungkinan al-Quran dari orang Arab adalah salah, karena orang Arab ditantang untuk membuat yang semisal al-Quran, “Katakanlah, datangkan oleh kalian (orang Arab) sepuluh surat yang serupa dengan al-Quran” (Hûd: 13), “Katakanlah, datangkan oleh kalian sebuah surat yang serupa dengan al-Quran” (Yûnus: 38), sungguh pun orang Arab berupaya untuk membuat yang serupa dengan al-Quran namun mereka lemah untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan adanya tantangan, dan upaya mereka, namun orang Arab (tetap) lemah untuk mendatangkan yang serupa dengan al-Quran, karena itulah al-Quran bukan berasal dari orang Arab. Kemungkinan selanjutnya al-Quran berasal dari Muhammad saw., pernyataan ini salah, karena Muhammad termasuk bangsa Arab pula, walaupun ia memiliki ketinggian intelektualitas, namun ia tetap hanya seorang manusia yang berasal dari masyarakat dan umat (Arabnya), sehingga, selama orang Arab tidak bisa membuat al-Quran, sedangkan Muhammad pun orang Arab, maka dia pun tidak bisa membuat al-Quran yang semisal, karena itu al-Quran bukan dari Muhammad saw. Selain itu, Muhammad pun memiliki Hadits-hadits shahih juga hadits yang diriwayatkan secara mutawatir yang pasti kebenarannya. Tatkala hadits dan ayat al-Quran dibandingkan, keduanya tidak memiliki kesamana dalam gramatikanya (uslub), dalam waktu yang sama Rasul saw. pun membaca ayat al-Quran dan juga membaca hadits, yang keduanya tetap terdapat perbedaan gramatika (uslub bahasa) nya. Karena walaupun seseorang berupaya untuk membuat berbagai variasi dalam uslub bahasanya, sesungguhnya uslub bahasa seseorang tersebut tetap ada kemiripan, hal itu karena masih bersumber dari satu orang (yang sama). Kesimpulannya, tidak ada kemiripan uslub bahasa antara hadits dan ayat al-Quran, sehingga al-Quran bukan perkataan Muhammad secara mutlak, dengan adanya perbedaan yang mencolok nan jelas antara perkataan Muhammad dan al-Quran. Akan tetapi orang Arab juga menuduh Muhammad, (dengan menyatakan) al-Quran tersebut (diajarkan) dari seorang Nashrani bernama Jabr, pernyataan tersebut di bantah oleh Allah swt, dalam firmannya: “Dan Sungguh Kami Mengetahui bahwa mereka berkata, sesungguhnya al-Quran hanyalah diajarkan oleh seorang manusia kepada Muhammad, padahal bahasa orang yang mereka tuduh mengajarkan al-Quran kepada Muhammad, adalah bahasa Asing, sedangkan al-Quran berbahasa Arab yang jelas” (an-Nahl : 103).[83]
Dalil ‘Aqli Muhammad saw. adalah Rasulullah (utusan Allah swt.)
وأما ثبوت الحاجة إلى الرسول، فهو أنه ثبت أن الإنسان مخلوق لله تعالى، وأن التدين فطري في الإنسان، لأنه غريزة من غرائز، فهو في فطرته يقدس خالقه، وهذ التقديس هو العبادة، وهي العلاقة بين الإنسان والخالق وهذه العلاقة إذا تركت دون نظام يؤدي تركها إلى اضطرابها وإلى عبادة غير خالق، فلا بد من تنظيم هذه العلاقة بنظام صحيح، وهذا النظام لا يأتي من الإنسان لأنه لا يتأتى له إدراك حقيقة الخالق حتى يضع نظاما بينه وبينه، فلا بد من أن يكون هذا النظام من الخالق. وبما أنه لابد من أن يبلغ الخالق هذا النظام للإنسان، لذلك كان لابد من الرسل يبلغون الناس دين الله تعالى
Adapun penetapan (bukti) kebutuhan akan adanya Rasul, bahwa buktinya manusia sungguh merupakan ciptaan Allah ta’ala, dan tadayyun (beragama) hal yang fitrah dalam diri manusia, karena  tadayyun (naluri beragama) termasuk bagian dari naluri-naluri (manusia), maka naluri tersebut secara fitrahnya akan mengkultuskan (mensucikan) penciptanya, taqdis (pensucian/ pengkultusan) ini disebut sebagai ibadah, ia merupakan hubungan antara manusia dengan penciptanya (artinya) hubungan ini ketika dibiarkan tanpa aturan (yang jelas) tentu menyebabkan kekacauan yang berujung pada penyembahan (ibadah) kepada ‘selain’ sang Pencipta. Dari sinilah pentingnya hubungan tersebut diatur dengan aturan yang benar, namun aturan (yang benar) tersebut bukan dari manusia (itu sendiri), sebab manusia tidak tahu menahu hakikat sang pencipta sehingga ia meletakan aturan (ibadah) antara dirinya dengan pencipta, maka mestinya aturan (ibadah) ini datang dari sang al-Khaliq (pencipta). Oleh karena itu, sang pencipta (Allah swt) harus menyampaikan aturan (ibadah) ini kepada manusia, yang meniscayakan adanya utusan (para Rasul), sehingga para rasul tersebut menyampaikan agama Allah (Islam) kepada umat manusia. [84]
وبما أنه محمد (صلى) هو الذي أتى بالقرآن، وهو كلام الله وشريعته، ولا يأتى بشريعة الله إلا الأنبياء والرسل، فيكون محمد (صلى) نبيا ورسولا قطعا بالدليل العقلي
Karenanya, Muhammad saw. adalah orang yang datang bersama dengan Al-Quran (sebagai mujizat), yang merupakan kalamullah dan syariat-Nya, sedangkan tidak ada orang yang membawa syariat Allah swt. Selain para nabi dan rasul, maka secara pasti berdasarkan dalil akli Muhammad saw. adalah nabi dan rasul Allah swt.[85]
Dalil ‘Aqli Kebenaran Qadha’ dan Qadar
Perlu menjadi catatan penting bahwa, pembahasan Qadha’ dan Qadar yang dibahas oleh An-Nabhani bukan Qadha’ maupun Qadar yang terkait Ilmu atau sifat Allah swt., karena pembahasan Ilmu atau sifat Allah swt. sudah pasti kebenarannya, akan tetapi pembahasan Qadha’ dan Qadar yang dimaksud adalah, merupakan pembahasan kritikan terhadap perkara yang dibahas dan diperselisihkan oleh para ahli Kalam, artinya An-Nabhani mencoba meluruskan pemahaman mutakalimin terkait Qadha’ dan Qadar.
Pada dasarnya hasil kesimpulan Qadha’ dan Qadar para ahli Kalam, bermuara pada tiga pendapat, yakni, (1) pendapat Ahl as-Sunnah (aliran teologi al-Asy’ariy)[86], yang menyatakan bahwa: manusia memiliki khasb ikhtiyâri (ketika manusia berkehendak maka Allah swt. menciptakan kehendak tersebut); (2) pendapat Mu’tazilah, yang menyatakan: bahwa sebenarnya manusia itu sendiri yang secara total menciptakan perbuatannya (mirip pendapat kaum free will Yunani); (3) pendapat al-Jabariyyah, yang menyatakan: Allah swt. yang secara total menciptakan manusia sekaligus perbuatan yang akan mereka kerjakan, sehingga manusia seperti bulu di angkasa yang bergerak sesuai keinginan angin (mirip pendapat kaum fatalis Yunani).[87]
Sebenarnya menurut An-Nabhani esensi pembahasan Qadha’ dan Qadar, bukanlah perbuatan hamba/ manusia dipaksa oleh ilmu Allah swt. atau bebas. Namun pembahasan Qadha’ dan Qadar lebih kepada fakta bahwa manusia hidup dalam dua wilayah yang proporsional yakni, pertama: wilayah yang dia kuasai, yaitu daerah atau zona yang berada dalam wewenang dan kekuasaannya, manusia melakukan perbuatan sesuai pilihannya. Kedua: wilayah yang menguasai manusia, yaitu daerah yang manusia tidak mempunyai wewenang untuk campur tangan dalam kejadian setiap perkara, walaupun perkara tersebut seolah-olah melibatkan manusia atau tidak.[88]
Wilayah yang kedua atau wilayah yang menguasai manusia dan manusia tidak memiliki andil dalam hal tersebut, inilah yang disebut dengan Qadha. Sedangkan Qadar adalah khasiyat-khasiyat benda-benda dan dorongan naluri maupun dorongan kebutuhan jasmani yang telah ada dalam diri manusia maupun benda-benda. Qadha’ maupun Qadar dalam makna ini datang dari Allah swt. dan wajib diimani oleh setiap muslim, karena realitasnya memang terdapat dan menimpa pada makhluk-makhluk Allah swt. dan dapat dibuktikan lewat pengindraan manusia.[89]
Argumentasi An-Nabhani terkait Qadha’ dalam konteks nizhâm al-wûjud (sunnatullah), bahwa ia benar adanya, sebagai berikut:
فقد أتى إلى هذه الدنيا على غير إرادته، وسيذهب عنها على غير إرادته، ولا تستطيع أن يطير بجسمه فقط في الهواء، ولا أن يمشي بوضعه الطبيعي على ماء، ولا يمكن أن يخلق لنفسه لون عينيه، ولم يوجد شكل رأسه، ولا حجم جسمه، وإنما الذي أوجد ذلك كله هو الله دون أن يكون للعبد المخلوق أي أثر ولا أية علامة في ذلك، لأن الله هو الذي خلق نظام الوجود، وجعله منظما للوجود، وجعل الوجود يسير حسبه ولا يملك التخلف عنه.
Misalnya, (manusia) datang ke dunia bukan berdasarkan kehendaknya, begitu juga ketika manusia meninggalkan dunia (mati) itupun bukan keinginannya. Selanjutnya, manusia pun tidak bisa terbang diudara jika hanya dengan badannya (tanpa bantuan kecanggihan teknologi), manusia juga tidak bisa berjalan secara alami diatas air, ia pun tidak mungkin merekayasa bagi dirinya sendiri (secara total) warna asli kedua matanya, tidak pula bentuk kepala, membesarkan tubuh, akan tetapi yang menciptakan itu semua hanya Allah swt. tanpa adanya sedikitpun campur tangan maupun intervensi makhluk. Karena itulah Allah swt. yang menciptakan nizham al-wujud, menjadikannya dikontrol atau diatur oleh-Nya, juga menjadikan segala yang ada berjalan sesuai nizham al-wujud, sehingga tidak ada yang sanggup menyimpangkannya (dari ketentuan-Nya).[90]
Sedangkan argumen/ contoh Qadha’ dalam konteks selain nizhâm al-wûjud atau wilayah yang manusia tidak memiliki andil (kontrol) terhadap perkara-perkara atau kejadian yang menimpa manusia maupun benda menimpa manusia, tetapi wilayah tersebut diluar (nizhâm al-wûjud) sunnatullah, adalah:
كما لو سقط شخص عن ظهر حائط على شخص آخر فقتله، وكما لو أطلق شخص النار على طير فأصابت إنسانا لم يكن يعلمه فقتله، كما لو تَدَهْوَرَ قطار أو سيارة أو سقط طائرة لخلل طارئ لم يكن بالإمكان تلافيه فتسبّب عن هذ التدهور والسقوط قتل الركابت
Sebagaimana, seseorang yang terjatuh dari atas dinding (tembok) lalu menimpa orang lain sampai yang tertimpa itu terbunuh, juga seseorang yang menembak burung namun (sasaran meleset) mengenai orang lain hingga terbunuh, akan tetapi sang penembak tidak tahu menahu kesalahan sasarannya tersebut. Lalu contoh lain, seperti kecelakaan kereta atau mobil atau jatuhnya pesawat karena kerusakan mendadak yang tidak mungkin untuk diperbaiki, sehingga menyebabkan terbunuhnya penumpang.[91]
Semua perkara yang ada, baik itu berupa sunnatullah maupun perkara yang menimpa manusia (selain sunnatullah), namun manusia tidak bisa menghindar, itulah yang disebut Qadha’, setiap muslim wajib mengimanai bahwa Qadha’ itu eksis dan benar adanya berasal dari Allah swt. manusia pun tidak akan dihisab karena kejadian tersebut, baik dan buruknya semata-mata dari allah swt.
Adapun argumentasi bahwa Qadar itu eksis dan ia merupakan khashiyyat al-asyya’ (khasiat benda-benda) –beserta dorongan naluri maupun dorongan kebutuhan jasmani yang telah ada dalam diri manusia maupun benda-benda– yang Allah swt ciptakan, adalah:
خلق الله لهذه الأشياء خواصّ معينة، فخلق في النار خاصية الإحراق، وفي الخشب خاصية  الإحتراق، وفي السكين خاصية القطع، وجعله لازمة حسب نظام الوجود
لاتتخلف … وكما خلق في الأشياء خاصيات كذلك خلق في الإنسان الغرائز والحاجات العضوية، وجعل فيها خاصيات معينة كخواص الأشياء، فخلق في غريزة النوع خاصية الميل الجنس، وفي الحاجات العضوية خاصيات كالجوع والعطش ونحوهما وجعله لازمة لها حسب سنة الوجود… هي التي تسمى القدر، لأن الله وحده هو الذي خلق الأشياء و الغرائز والحاجات العضوية، وقدّر فيها خواصها.
Allah swt. telah menciptakan benda-benda semuanya memiliki khasiat-khasiat tertentu, misalnya (buktinya), Allah swt. telah menciptakan pada api karakteristik untuk membakar, pada kayu terdapat karakteristik bisa terbakar, pisau memiliki karakteristik untuk memotong, semuanya secara pasti tercipta sesuai nizham al-wujud (sunnatullah) yang tidak akan menyelisihi ketentuan Allah swt (kecuali kasus mu’jizat para Nabi as) … dan sebagaimana Allah swt. telah menciptakan pada segala sesuatu memiliki khasiat-khasiat, Allah swt. pun juga telah menciptakan pada diri manusia gharizah-gharizah (berbagai naluri) dan kebutuhan jasmani (fisik), Allah swt. telah menciptakan dalam naluri dan kebutuhan jasmani tersebut khasiat-khasiat tertentu seperti khasiat benda-benda. Sehingga secara riil, Allah swt. menciptakan naluri kasih sayang (an-nau’) khasiatnya kecenderungan jenis atau keinginan untuk berketurunan, pada al-hajah al-’udhawiyah (kebutuhan jasmani) khasiat-khasiat tertentu seperti lapar, haus dan lain-lain, semuanya terjadi secara pasti sesuai sunnah al-wujud (sunnatullah) … inilah yang disebut dengan Qadar, karena hanya Allah swt. satu-satunya yang menciptakan benda-benda, gharizah dan kebutuhan jasmani, Allah swt. pula yang menentukan (Qadar) khasiyat-khasiat pada semuanya itu.[92]
Jadi semua perkara yang berada diluar andil dan wewenang atau kekuasaan manusia disebut Qadha’, sedangkan Qadar adalah karakteristik yang Allah swt ciptakan pada benda-benda dan diri manusia, Qadar pun bukan wewenang atau kekuasaan manusia untuk menciptakannya. Qadha yang menimpa manusia dan Qadar yang terdapat pada benda dan manusia, tidak terkait akuntabilitas manusia di hari kiamat atau tidak ada hisab bagi manusia, karena semuanya semata-mata dari Allah swt. manusia hanya wajib untuk mengimaninya, bahwa Allah swt lah yang menentukan Qadha’ maupun Qadarnya.
Sedangkan wilayah yang dia kuasai –yakni daerah atau zona yang berada dalam wewenang dan kekuasaan manusia, yang ia melakukan perbuatan sesuai pilihannya, termasuk pemanfaatan potensi Qadar yang terdapat pada benda dan manusia– inilah yang akan di hisab pada ahari kiamat, karena ketika manusia makan karena dorongan kebutuhan jasmani (lapar), maka jika ia makan makanan yang halal maka itu pilihan dia dan jika dia makan makanan haram itu pun pilihan dia, manusia pasti akan dihisab sesuai pilihannya, yakni apakah manusia akan memilih syariat Allah swt. atau akan memilih syariat selain Allah swt. karena itu Allah swt. berfirman[93]:
وَهَدَيْنَاهُ النَّجْدَيْنِ
Telah kami tunjukan kepadanya dua jalan hidup (baik dan buruk) (TQS. Al-Balad [90]: 10)

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهاَ
Lalu memberikan kepada jiwa manusia potensi untuk mengerjakan yang maksiat dan yang takwa(TQS. Asy-Syams [91]: 8)

كُلُّ نَفْسٍ بِماَ كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Setiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya (TQS. Al-Mudatsir [74]: 38)

Adapun objek pembahasan rukun Iman yang lain, selain yang telah disebutkan diatas maka dalilnya adalah dalil nakli (menukil dari al-Quran maupun hadits mutawatir) karena objeknya ghaib, seperti beriman terhadap asma dan sifat-sifat Allah swt, Malaikat, Nabi dan Rasul selain Muhammad saw., Kitab-kitab sebelum al-Quran, dan Hari Kiamat, ini semua dalilnya harus dibangun oleh dalil naqli (menukil dari al-Quran atau Hadits Mutawatir).[94]
Tentang asma’ – sifat Allah swt. yang harus diyakini karena bersumber dari dalil qath’i, contohnya: al-Rabb ar-Rahman (Maha Pengasih), ar-Rahim (Maha Penyayang), al-Wahid (Maha Tunggal), al-Ahad (Maha Esa), al-Hayy (Maha Hidup), al-Qayyum (Maha Berdiri Sendiri), al-Ghani (Maha Kaya), al-Awwal (Maha Pertama), al-Akhir (Maha Terakhir), al-Quddus (Maha Suci), ash-Shamad (tempat bergantung), al-Haqq (Maha Pasti), al-Khaliq (Maha Mencipta), al-Bari’ (Maha Membuat), al-Mushawwir (Maha Membentuk Rupa), al-Badi’ (Maha Mengagumkan), ar-Ra’uf (Maha Belas Kasih), at-Tawwab (Maha Penerima Taubat), al-Halim (Maha Penyantun), al-’Afuw (Maha Mengampuni), asy-Syakur (Maha Menerima Syukur), as-Salam (Maha Memberi Keselamatan), al-Mu’min (Maha Memberi Keamanan), al-Muhaymin (Maha Memelihara), al-Jabbar (Maha Memaksa), al-’Azhim (Maha Besar), al-Barr (Maha Melimpahkan Kebaikan), al-’Aziz (Maha Perkasa), al-Mutakabir (Maha Memiliki Segala Keagungan), al-Wadud (Maha Mengasih), al-Qadir (Maha Kuasa), al-Hadiy (Maha Pemberi Petunjuk), an-Nashir (Maha Melindungi), ash-Shadiq (Maha Benar), ar-Rafi’ (Maha Meninggikan), ar-Razzaq (Maha Pemberi Rizki), al-Wahhab (Maha Pemberi), al-Iradah (Maha Berkehendak), al-Kalam (Maha Berbicara), al-Qudrah Maha Berkuasa), Laisa Kamitslih syaiun (Tiada yang Serupa dengan Allah), al-’Ilmu (Maha Mengetahui). Al-Baqi (yang Kekal), al-Fatih (Maha Membuka), dan lain sebagainya.[95] (Maha Mendidik – Memelihara),
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
Maha suci Tuhamnu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan (TQS. Ash-Shâffât [37]: 180)
Tentang dalil naqli beriman kepada Para Malaikat, Kitab-Kitab Terdahulu, Nabi – Rasul sebelum Muhammad saw. dan Kedatangan Hari Kiamat. adalah sebagai berikut[96]:
شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلاَئِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). (TQS. Ali Imran [3]: 18)

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ
Dan kami telah turunkan kepadamu al-Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. (TQS. Al-Maidah [5]: 48)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ءَامِنُوا بِاللهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالاً بَعِيدًا
Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada rasul-Nya serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya. barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. (TQS. An-Nisa [4]: 136)

Adapun dari al-Hadits:
الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ
Iman itu adalah bahwa engkau beriman kepada Allah dan para malaikat-Nya, dan kitab-kitab-Nya, dan pertemuan dengan-Nya, dan para rasul-Nya dan beriman kepada hari kebangkitan. (HR. Al-Bukhari no. 48)
Begitulah ruang lingkup akidah Islam menurut pemahaman An-Nabhani sebagai implikasi penggunaan dalil aqli dan naqlinya.
  1. C. Metode Pembelajaran Akidah Islamiyah
    1. 1. Mempelajari Secara Mendalam
Menurut An-Nabhani, ketika seseorang ingin mempelajari dan memahami khazanah Islam –termasuk Akidah Islam–, maka seseorang dituntut untuk mempelajari secara mendalam, dan bersungguh-sungguh dalam mencurahkan kemampuan untuk memahaminya:
أن تدرس الأشياء بعمق حتى تدرك حقائقها ادراكاً صحيحاً، لأن هذه الثقافة فكرية عميقة الجذور يحتاج في دراستها إلى صبر وتحمّل.
(Hendaklah) mempelajari sesuatu dengan mendalam hingga mengetahui hakikat sesuatu tersebut secara benar, karena tsaqafah ini merupakan pemikiran yang mendalam, dasar pembelajarannya diperlukan kesabaran dan keuletan.[97]

Karena itu dalam konteks Akidah Islamiyah, maka pembelajaran harus menjurus pada definisi dan ruang lingkup akidah itu sendiri, beserta dalil dan argument untuk memperkokoh keimanan para peserta didik.
  1. 2. Meyakini dan Berbuah Pengamalan
Dalam mmpelajari akidah Islamiyah, seorang pelajar dituntut untuk meyakini akidah Islam, dan mampu direfleksikan dalam kehidupannya.
أن يعتقد الدارس بها يدرس حتى بعمل به، أي أن يصدق الحقائق التي يدرسها تصديقاً جازماً دون أن يتطرق إليها أي ارتياب إذا كانت مما بتعلق بالعقيدة، ….فإن التصديق الجازم بهذه الأفكار يجعل الارتباط الحتمي الذي يجري طبيعياً في داخل الإنسان بين واقعه والمفاهيم الموجودة لديه عن الأشياء مربوطاً بهذه الأفكار باعتبارها معاني عن الحياة، فيندفع بشوق وحماس إلى العمل بهذه الأفكار فيكون هذا التأثير الهائل لهذه الثقافة في نفوس، إذ تحرك المشاعر نحو الواقع الذي تضمنه الفكر، لأن الاعتقاد بها هو ربط المشاعر بمفاهيمها فيحصل حينئذ الاندفاع.
Seorang pelajar (harus) meyakini terhadap sesuatu yang dipelajari hingga ia mengamalkannya, yakni membenarkan hakikat yang dipelajarinya dengan pembenaran yang pasti tanpa adanya keraguan, jika hal yang dipelajari tersebut berkaitan dengan akidah….Sesungguhnya pembenaran pasti terhadap pemikiran ini, akan menjadi ikatan yang kuat secara alamiah, hal ini terjadi dalam diri manusia antara fakta, dan mafahim manusia yang ada tentang sesuatu yang terikat dengan pemikiran ini, dengan anggapan sebagai makna-makna kehidupan. Dengan kerinduan dan keinginan menggelora akan mendorong untuk mengamalkan pemikiran ini, yang selanjutnya tsaqafah ini menjadi pengaruh yang luar biasa terhadap jiwa, karena akan menggerakkan perasaan seperti fakta yang terkandung dalam pemikiran, sebab keyakinan terhadap tsaqafah tersebut merupakan ikatan perasaan dengan mafahim, maka ketika itu akan menghasilkan dorongan untuk berbuat.[98]
Artinya ketika mempelajari akidah Islamiyah, maka dalil atau argumen dalam membangunnya harus tepat, mana yang harus disampaikan kepada peserta didik dengan pemikiran, dan mana yang harus disampaikan kepada peserta didik dengan dalil nakli (menukil). Selanjutnya secara otomatis, jika akidah sudah kokoh dalam diri sorang peserta didik, tentu apa yang dituntut oleh akidah tersebut pasti akan dipenuhi dan dijalankan. Misalnya: seseorang yang meyakini al-Quran sebagai kalamullah tentu dia akan mengamalkan perintah yang ada didalammnya baik hukum ibadah maupun hukum muamalah dan lain sebagainya sebagainya. Konsekuensi lainnya ketika seseorang meyakini al-Quran kalamullah, maka ia pun dituntut untuk meyakini as-Sunnah dan semua hukum yang ada karena telah diberitakan dalan al-Quran. Dalam konteks ini Allah swt. berfirman:
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An-Nisa [4]: 65)
  1. D. Pemahaman Akhlak Menurut Taqiyuddin An-Nabhani
1. Akhlak adalah Bagian dari Syariat Islam (Hukum Syara’)
An-Nabhani memandang bahwa akhlak merupakan bagian dari syariat Islam, yakni bagian dari perintah dan larangan Allah swt., bukan suatu sistem yang terpisah,[99] dengan alasan logis sebagai berikut:
بل هي من حيث تفصيل الأحكام، أقلّ تفصيلا من غيرها، ولم تجعل لها في الفقه بابا خاصا، فلا نجد في كتب الفقه التي تحوي الأحكام الشرعية بابا يسمى باب الأخلاق، ولم يعن الفقهاء والمجتهدون في أمر الأحكام الخلقية بالبحث والاستنباط
Bahkan sebenarnya akhlak merupakan rincian hukum-hukum yang paling sedikit detilnya dari hukum Islam yang lain. Karena itulah akhlak tidak akan terdapat pada suatu bab khusus dalam fiqih Islam. Maka wajar jika kita tidak menemukan di berbagai kitab fiqih yang berisi hukum-hukum syariah, di dalamnya tercantum bab yang disebut bab akhlak. Para fuqaha dan mujtahidin tidak menitikberatkan dan memfokuskan pembahasan mendalam dan instinbat (penggalian hukum) pada perkara hukum-hukum akhlak.[100]
Artinya, secara metodologis Islam terbagi menjadi akidah dan syariat, dan posisi akhlak terdapat pada hukum syariat yang mengtur masalah personal. Alasannya karena di dalam khazanah atau referensi rujukan utama buku-buku fikih –para mujtahidin dan fuqaha– tidak terdapat bab khusus dengan nama bab akhlak, termasuk dalam kitab-kitab hadits pun demikian. Akhlak Islam juga sebenarnya, tidak akan mungkin dipisahkan dari bagian macam-macam hukum syara’, seperti ibadah, muamalah dan lain sebagainya, sehingga khusyu tidak akan nampak kecuali dalam shalat, jujur dan amanah hanya akan muncul pada muamalah, jadi akhlak merupakan bagian dari hukum syariat, yakni perintah dan larangan Allah swt. yang akan nampak ketika melaksanakan amal perbuatan.[101]
2. Akhlak Islamiyah Bukan Berdasarkan Manfaat Materi
Menurut An-Nabhani, seorang muslim ketika berakhlak bukan tuduk pada pertimbangan manfaat dan mudharat semata, namun tunduk pada syariah, yakni perintah dan larangan Allah swt. semata bukan yang lain, karena:
وهذه الأخلاق القائمة على تبادل المنفعة تجعل صاحبها منافقا: يكون باطنه غير ظاهرة، لأن الخلق عنده بني على المنفعة، فيدور في نفسه حيثما تدور المنفعة
Akhlak yang tegak berdasarkan pertukaran manfaat akan menjadi­kan pelakunya munafik, batinnya berbeda dengan zhahirnya, karena menurutnya akhlaq dibangun berlandaskan nilai manfaat. Sehingga jika ada manfaat yang didapat, maka akhlak akan terwujud dalam dirinya.[102]
Karena adakalanya akhlak akan mendatangkan manfaat, namun adakalanya akhlak akan mendatangkan bahaya. Seperti akhlak pengemban dakwah ketika diwajibkan untuk menyatakan kebenaran dihadapan penguasa:
سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ بْنُ عَبْدُ الْمُطَلِّبِ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ فَقَتَلَهُ
Penghulu para syuhadâ’ adalah Hamzah bin Abdi aI-Muthallib serta orang yang mendatangi penguasa  zhalim lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan mencegahnya (dari keburukan), kemudian dia (penguasa tersebut) membunuhnya. (HR. Al-Hâkim, al-Mustadrak No. 4872)
Jadi akhlak adalah sifat yang wajib dimiliki oleh setiap muslim ketika melakukan aktivitas. Bukan karena materi, misalnya karena mengharapkan keuntungan dari kebaikannya, atau karena pertimbangan emosi, seperti pujian orang lain. Namun, sifat­sifat tersebut direalisasikan dalam perbuatan, karena pertimbangan perintah, dan ketika ditinggalkan karena pertimbangan larangan Allah SWT. Sebab, merealisasikan sifat akhlak ini pada dasarnya melaksanakan hukum Allah SWT; baik yang wajib atau sunnah untuk dilaksanakan, dan kadang untuk meninggalkan apa yang haram atau makruh dikerjakan.[103]
3. Standar Baik dan Buruknya Akhlak Berdasarkan Hukum Syariah
Mengenai standar baik dan buruknya akhlak, An-Nabhani berpendapat bahwa, seharusnya dikembalikan kepada hukum syariah, dan bukan kepada akal manusia, karena itu An-Nabhani beralasan:
وقد بيّن الشرع الصفات التي يعتبر الاتصاف بها خلقا حسنا والتي يعتبر الاتصاف بها خلقا سيئا، فحث على الحسن منها ونهى عن السيئ: فحث على الصدق، والأمانة، وطلاقة الوجه، والحياء، وبرّ الوالدين، وصلة الرحم، تفريج الكروبات، وأن يحب المرء لأخيه ما يحب لنفسه، واعتبر كل ذلك ومثله حثا على اتباع أوامر الله. و نهى عن أضدادها كالكذب والخيانة والحسد والفجور وأمثلها، واعتبر ذلك ومثله نهيا عمَّا نهى الله عنه
Sejatinya syara’ telah menjelaskan sifat-sifat yang dianggap sebagai akhlak yang hasan (baik), dan juga akhlak yang buruk, syariat pun telah menganjurkan kepada setiap muslim agar berakhlak baik dan melarang untuk berakhlak buruk: maka diperintahkanlah seorang muslim agar jujur, amanah, bermuka ramah, malu, berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahim, membantu yang membutuhkan, mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, semua sifat tersebut dianjurkan untuk dilaksanakan karena mengikuti perintah Allah swt. Syara juga telah melarang kaum muslim dari sifat kebalikannya seperti dusta, khianat, hasad, durhaka dan sebagainya, semua sifat tersebut dilarang karena Allah swt. melarangnya.[104]
Manusia ketika memutuskan suatu perkara itu baik atau buruk cenderung relatif dan kebenarannya tidak valid. Terlebih jika dikaitkan dengan pahala dan siksa, misalnya: berjihad atau berperang dijalan Allah swt. merupakan perkara yang melanggar HAM –menurut manusia– dan pasti manusia tidak ada yang mau melaksanakannya karena takut akan berdampak buruk bagi jiwa –seperti kematian-, akan tetapi Allah swt. justru menyatakan sebaliknya:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ
Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah maha mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui. (TQS. Al-Baqarah [2]: 216)

Dalam pendapat yang lain, An-Nabhani menjelaskan:
أماالحكم على الأفعال والأشياء، من ناحية المدح والذم عليها في الدنيا، والثواب والعقاب عليها في الأخرة، فلا شك أنه لله وحده وليس للإنسان، أي هو للشرع وليس للعقل، وذلك كحسن الإيمان، وقبح الكفر، وحسن الطاعة، وقبح المعصية، وحسن الكذب في الحرب،…..
Adapun hukum terhadap perbuatan dan benda, dari aspek pujian dan celaan di dunia, pahala dan siksa di akhirat, maka tidak ada keraguan bahwa Allah swt satu-satunya yang menetapkannya, bukanlah manusia. Artinya syara’lah yang memutuskan bukan akal manusia. Demikianlah, keimanan adalah baik, sedang kekufuran adalah buruk, taat adalah baik, sedang maksiat adalah buruk, serta berdusta ketika peperangan adalah baik (namun dalam kondisi normal berdusta adalah buruk).[105]
Karena itulah standar baik dan buruk maupun terpuji dan tercela dilihat dari aspek pahala dan siksa, semuanya kembali kepada Allah swt. bukan kepada akal manusia semata, atau kembali kepada dalil-dalil syariah, dalam konteks ini Allah swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي اْلأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلآَخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (TQS. An-Nisa [4]: 59)[106]

4. Akhlak Bukan Faktor Utama Pembentuk Masyarakat
Dalam hal ini, An-Nabhani memberikan studi kritis terhadap pemahaman segelintir kaum muslimin, yang menganggap akhlak sebagai faktor utama pembentuk dan apalagi pembangkit masyarakat, An-Nabhani berstatement:
والأخلاق لاتؤثر في قيام المجتمع بحال، لأنّ المجتمع يقوم على أنظمة الحياة، وتؤثر فيه المشاعرُ والأفكارُ، وأما الخلق فلا يؤثر في قيام المجتمع، ولا في رقيه أو انحطاطه، بل المؤثر هو العرف العام الناجم عن المفاهيم عن الحياة، والمسير للمحتمع ليس الخلق، وإنما هي الأنظمة التي تطبق فيه، والأفكار والمشاعر التي يحملها الناس والخلق ذاته ناجم عن الأفكار والمشاعر ونتيجة لتطبيق النظام
Sejatinya akhlak tidak mempengaruhi pembentukan kondisi masyarakat, sebab masyarakat tegak berdasarkan aturan kehidupan, yang mempengaruhinya adalah perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Adapun akhlak tidak mempengaruhi pembentukan mesyarakat, tidak juga mempunyai pengaruh (utama) terhadap ketinggian dan kemerosotan (suatu masyarakat), tapi sebenarnya yang mempunyai andil besar adalah kebiasaan umum yang terlahir dari mafahim (persepsi-persepsi) tentang kehidupan, dan yang mengontrol masyarakat bukanlah akhlak, namun aturan yang diterapkan ditengah-tengah mereka, beserta pemikiran dan perasaan yang diemban oleh manusia, jadi akhlak itu sendiri hakikatnya terlahir (terpengaruh) oleh pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan hasil penerapan aturan (syariah ditengah-tengah masyarakat).[107]
An-Nabhani memandang bahwa untuk membentuk masyarakat yang bangkit, bukan sekedar akhlak yang dibutuhkan, namun lebih dari itu, yakni adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang diterapkan. Sehingga pembentukan akhlak semata untuk menghasilkan masyarakat yang beradab belum mencukupi, namun akan bisa terwujud jika faktor-faktor yang lain pun ikut diperhatikan seperti pemikiran masyarakat apakah sesuai akidah Islam atau tidak, perasaan masyarakat yakni benci dan ridha masyarakat sudah berdasarkan syara’ atau tidak, dan apakah aturan yang digunakan oleh masyarakat tersebut adalah syariat Islam atau bukan. Karena itu An-Nabhani mendefinisikan masyarakat sebagai berikut:
مجموعة من الناس تنشأ بينهم علاقات دائمية … وكان المجتمع مؤلفاً من الإنسان، والأفكار، والمشاعر، والأنظمة … فحين تسود الأفكار الإسلامية والمشاعر الإسلامية، ويطبّق النظام الإسلامي على الناس، يوجد المجتمع الإسلامي … ولذلك لو كان جميع الناس مسلمين، وكانت الأفكار التي يحملونها رأسمالية ديمقراطية، والمشاعر التي يحملونها روحية كهَنوتية أو وطنية، والنظام الذي يطبق عليهم رأسمالياً ديمقراطياً، فإن المجتمع يكون مجتمعاً غير إسلامي ولوكان جُلُّ أهْلِهِ من المسلمين
Masyarakat adalah kumpulan manusia yang diantara mereka terdapat interaksi terus menerus…. Artinya masyarakat tersusun dari (kumpulan) manusia, pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan dan aturan…Maka ketika pemikiran dan perasaan Islam meliputi, dan aturan Islam diterapkan terhadap manusia, maka terbentuklah masyarakat Islam… Karena itulah, seandainya semua manusia itu muslim, sedangkan pemikiran-pemikiran yang diemban mereka adalah kapitalisme-demokrasi, perasaan-perasaan yang mereka emban adalah ruhiyyah mistisme (spiritualisme namun tidak memiliki aturan mengurusi urusan dunia) atau nasionalisme, dan aturan yang mereka terapkan adalah kapitalisme-demokrasi, maka sejatinya masyarakat yang terbentuk bukan masyarakat Islam walaupun pada faktanya disana banyak orang (yang mengaku) muslim.[108]
Artinya akhlak itu sendiri lebih merupakan efek dari diterapkannya syariat terhadap masyarakat, dan bukan sebaliknya. Karena itu wajar jika al-Quran tidak terlalu banyak membicarakan akhlak kecuali al-Qalam ayat 4.[109] Karenanya dapat disimpulkan bahwa tonggak masyarakat adalah akidah yang melahirkan aturan kehidupan, sedang akhlak merupakan perwujudan pengaruh dari diterapkannya syariah ditengah masyarakat, karena itu akhlak adalah faktor pembangkit personal (individu), sedang akidah yang melahirkan sistem adalah faktor utama pembangkit kolektif (masyarakat).
  1. E. Metode Pembelajaran Akhlak Islamiyah
1. Memahami Standar Perbuatan Manusia
Ketika manusia melakukan suatu perbuatan, tentu mereka akan dihisab atas perbuatan yang baik dan yang buruk di hari akhir kelak, karena itulah semestinya manusia harus sangat berhati-hati dalam melakukan suatu perbuatan di dunia ini, karena itu An-Nabhani membuat kaidah ushul, sebagai berikut:
الأَصْلُ فِي أَفْعَالِ اْلإِنْسَانِ اَلتَّقَيُّدُ بِحُكْمِ اللهِ
Hukum asal perbuatan manusia adalah terikat hukum Allah swt.[110]
Maka haruslah bagi seorang muslim, sebelum bertindak untuk mengetahui hukum Allah swt. tentang perkara yang akan diperbuatnya. Misalnya seorang pemuda yang sudah matang dari aspek biologisnya, maka ketika pemuda tersebut akan menyalurkan kebutuhan biologisnya tersebut, dia wajib mengetahui hukum Allah swt. tentang perkara tersebut, dia tidak bisa melakukan hubungan suami-istri pada sembarang orang, namun semuanya harus melalui pernikahan:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
Wahai para pemuda, siapa saja diantara kalian yang mampu berumah tangga, hendaklah menikah. Namun barangsiapa yang tidak mampu (menikah), hendaknya berpuasa, karena puasa merupakan perisai baginya. (HR. al-Bukhari, No. 4677)
Dengan diajarkan kepada peserta didik, tentang hukum pernikahan tersebut, ini akan menghilangkan kerusakan moral akibat pergaulan bebas pada masa sekarang. Begitu pula dengan hukum yang lainnya, misalnya seperti saat berdagang, maka seorang muslim ketika akan bertransaksi dia harus mengetahui dulu hukum tentang ekonomi dalam Islam, sekaligus juga ketika transaksi tersebut sudah terjadi dia pun harus berbuat jujur dalam timbangan, sebagai mana Allah swt. berfirman:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ، الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ، وَإِذَا كَالُوهُمْ أَووَّزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ
Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. (TQS. Al-Muthaffifin [83]: 1-3)
Dalam konteks ini, para peserta didik bisa memahami bahwa saat bertransaksi dia tidak boleh curang. Begitupun sebagaimana contoh akhlak seorang pejabat yang tidak boleh suap-menyuap dan berkhianat terhadap rakyat dengan janji-janji bohong, karena semuanya termasuk akhlak yang tercela: [111]
مِنْ أَخْوَنِ الْخِيَانَةِ تِجَارَةُ الْوَالِي فِي رَعِيَّتِهِ
Khianat yang paling besar adalah bila seorang pejabat memperdagangkan rakyatnya (HR. ath-Thabrani, Musnad No. 1291)
الرِّشْوَةُ فِي الْحُكْمِ كُفْرٌ
Menyuap dalam urusan pemerintahan adalah kufur (HR. ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir No. 9002)
.
Demikianlah ketika mengajarkan akhlak kepada seorang peserta didik, maka mereka harus memahami bahwa perbuatan mereka terikat dengan hukum syara’, karena itu segala macam tindakan yang akan mereka ambil memiliki konsekuensi logis pahala dan siksa di hari hisab kelak, [112] maka inilah yang harus dipahami oleh mereka, bahwa semua perbuatan mereka pasti memiliki hukum baik haram, sunnah, makruh, mubah, maupun wajib. artinya akhlak yang terpuji adalah akhlak yang dianjurkan maupun yang diwajibkan, sedang yang tercela adalah yang dilarang oleh Allah swt. dan Rasul-Nya saw.
2. Pengajaran Bersifat Aplikasi Praktis Kehidupan Sehari-hari
An-Nahbani berpendapat –karena akhlak merupakan bagian dari amal shalih seorang muslim, maka metode pembelajarannya pun harus diajarkan secara praktis dan menjauhi teoritis yang akan melupakan mereka dari dunia nyata:
أن يدرسها الشخص دراسة عملية تعالج الواقع المدرك المحسوس، لا دراسة مبنية على فروض نظرية، حتى يصف الأشيء كما هي على حقيقتها ليعالجها ويغيرها
Seseorang mempelajari tsaqafah (ilmu-ilmu ke-Islaman, termausk salah satunya akhlak Islami) sebagai sebuah studi praktis untuk memberi solusi bagi fakta yang terjangkau oleh indra, bukan pembelajaran yang didasari atas teoritis belaka, hingga seorang pelajar mensifati sesuatu seperti hakikatnya untuk memberi solusi dan merubahnya (faktanya).[113]
Dalam konteks akhlak, ia merupakan kewajiban yang bersifat individu. Peran penting keteladanan dalam akhlak sangat signufikan, karena itu wajar Allah swt. mengutus Rasul saw. untuk mengajarkan secara praktis hukum-hukum Allah swt., termasuk wilayah akhlak, karena itulah Allah swt. berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ اْلآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (TQS. Al-Ahzab [33]: 21)
(Menurut Ibnu Katsir) ayat mulia ini adalah pondasi utama dalam mengikuti teladan Nabi saw. pada aspek perkataan, perbuatan dan segala kondisi beliau, dan dengan ayat ini pun (Allah swt) memerintahkan manusia agar mengikuti keteladanan Nabi saw. pada perang ahzab berupa kesabaran, keteguhan, kewaspadaan, perjuangan, dan kesetiaan menanti pertolongan Allah swt.[114]
Jika dalam kondisi sulit dan kritis seperti perang ahzab saja, kaum muslimin scara praktis harus mengikuti Rasul saw., maka terlebih dalam kondisi aman pun mereka harus mengikuti teladan Rasul saw., kaum muslimin memang wajib mengikuti semua yang diperintahkan Rasul saw., dan bagi generasi awal mengikuti Rasul saw. dalam kondisi aman maupun peperangan dapat dijalani dengan mudah. Karena mereka sanggup melihat langsung perjuangan Rasul saw., tentu itu akan sangat berbekas dalam jiwa para shahabat. Karena itulah seorang pengajar, hendaknya mampu menghadirkan gambaran perilaku mulia yang dilakukan oleh para pengemban dakwah generasi awal murid Nabi saw. yakni para shahabat, kepada para peserta didiknya. Dan harus mampu memotivasi para peserta didik untuk beramal –minimal melaksanakan akhlak yang biasa dilakukan oleh para shahabat, meskipun secara kualitas tetap para shahabat yang terbaik–. Karena itu untuk memotivasi para peserta didik agar beramal dengan akhlak yang terpuji, mereka harus diberi gambaran pahala yang akan didapat dan keutamaannya, sebagai mana sabda saw:
أَتَدْرُوْنَ أَيَّ أَهْلِ اْلإِيْمَانِ أَفْضَلُ إِيْمَـاناً ؟ قَالُوْا ياَ رَسُوْلَ اللهِ اَلْمَلاَئِكَةُ ؟ قَالَ: هُمْ كَذَلِكَ وَيَحِقَّ ذَلِكَ لَهُمْ وَمَا يَمْنَعُهُمْ وَقَدْ أَنْزَلَهُمُ اللهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي أَنْزَلَهُمْ بِهَا بَلْ غَيْرَهُمْ قَالُوْا : ياَ رَسُوْلَ اللهِ فَاْلأَنْبِيَاءُ الَّذِيْنَ أَكْرَمَهُمُ اللهُ تَعَالَى بِالنُّـبُوَّةِ وَالرِّسَالَةِ ؟ قَالَ : هُمْ كَذَلِكَ وَيَحِقَّ لَهُمْ ذَلِكَ وَمَا يَمْنَعَهُمْ وَقَدْ أَنْزَلَهُمُ اللهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي أَنْزَلَهُمْ بِهَا بَلْ غَيْرَهُمْ قَالَ : قُلْنَا : فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: أَقْوَامٌ يَأْتُوْنَ مِنْ بَعْدِيْ فِي أَصْلاَبِ الرِّجَالِ فَيُؤْمِنُوْنَ بِيْ وَلَمْ يَرَوْنِيْ وَيَجِدُوْنَ اْلوَرَقَ الْمُعَلَّقَ فَيَعْمَـلُوْنَ بِمَا فِيْهِ فَهَؤُلاَءِ أَفْضَلُ أَهْلِ اْلإِيْمَانِ إِيْمَانًـا
“Tahukah kalian orang yang keimanannya paling utama?” Mereka menjawab: wahai Rasulullah, mereka adalah para malaikat. Baginda Bersabda: “Mereka juga termasuk, dan status itu berhak untuk mereka, dan tiada yang dapat menghalangi mereka, sementara Allah telah memberikan kepada mereka kedudukan yang telah Allah tempatkan mereka dalam kedudukan itu. Tetapi yang aku maksud selain mereka.” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah mereka adalah para Nabi, yang telah dimuliakan oleh Allah dengan kenabian dan kerasulannya.” Baginda bersabda: “Mereka juga termasuk, dan status itu berhak untuk mereka, dan tiada yang dapat menghalangi mereka, sementara Allah telah memberikan kepada mereka kedudukan yang telah Allah tempatkan mereka dalam kedudukan itu. Tetapi yang aku maksud selain mereka.” Umar berkata: Kamipun bertanya: Jika begitu, siapakah mereka itu, wahai Rasulullah? Baginda bersabda: “Suatu kaum yang hidup setelah (zamanku) sebagai orang-orang yang kuat, mereka mengimaniku, sedangkan tidak pernah melihatku. Mereka menemukan kertas yang tergantung (Al-Quran dan As-Sunnah). Kemudian mereka melaksanakan isinya. Mereka inilah yang merupakan orang beriman yang terbaik keimanannya.” (HR. Al-Hakim, al-Mustadrak No. 7094)

Dengan hadits tersebut, sejatinya para peserta didik yang lurus hatinya akan merasa terpanggil melaksanakan amal shalih dalam kehidupan mereka, karena mereka merasa spesial, yakni orang yang keimanannya terbaik, walau tidak menyamai shahabat. Para pengajar pun, bisa mempraktekan bersama-sama para pelajarnya, tentang perkara-perkara yang bersifat amal shalih akhlak. Semua itu disesuaikan dengan usia para peserta didik, dari yang sederhana sampai yang kompleks, misalnya berbuat baik kepada orang tua, berbuat baik kepada tetangga, kepada guru, dan kawan-kawan sekelasnya. Namun ingat bahwa dalam pelaksanaannya, manusia kadang-kadang melakukan kesalahan. Karena itu perlu juga mereka dimotivasi untuk bertaubat ketika berbuat amal yang tercela dan tidak putus terhadap rahmat Allah swt, sebagaimana al-Quran dan Hadits berikut:
وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُورًا رَحِيمًا
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (TQS. An-Nisâ‘ [4]: 110)
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا، لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ، وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ، فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ تَعَالَى فَيَغْفِرْ لَهُمْ
Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika saja kalian tidak pernah berbuat dosa, pasti Allah sudah melenyapkan kalian, kemudian mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa. Kemudian mereka memohon ampun kepada Allah (atas dosa-dosa yang mereka perbuat), lalu Allah pun akan mengampuni mereka. (HR. Muslim, No. 4936)
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian pemahaman An-Nabhani terhadap akidah dan akhlak diatas, maka penulis menarik beberapa kesimpulan penting sebagai berikut:
  1. Menurut An-Nabhani akidah dan iman bermakna sama yakni: Pembenaran secara pasti atau bulat, yang diimani sesuai dengan kenyataan, dan berdasarkan dalil, baik berupa dalil akli maupun nakli. Akidah Islam adalah iman kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Kiamat, Qadha’ dan Qadar dimana baik dan buruknya semata-mata dari Allah swt., sedangkan pembuktian keimanan untuk objek yang terindra dalilnya bersifat akli, seperti keimanan akan eksistensi Allah, al-Quran, Nabi saw. dan Qadha’ maupun Qadar. Adapun untuk objek ghaib, maka dalil pembuktiannya adalah nakli, yakni menukil dari al-Quran dan Hadits mutawatir.
  2. Menurut An-Nabhani Akhlak adalah sifat yang wajib dimiliki oleh seorang muslim ketika melakukan aktivitas. Akhlak adalah bagian syariat Islam, ia tidak berdasarkan kepentingan materi, baik dan buruk akhlak dikembalikan kepada syariah, dan akhlak bukan faktor utama pembentuk masyarakat namun ia hanya faktor pembentuk dan penguat individu.
  3. Metodologi pembelajaran Akidah, menurut An-Nabhani adalah: Mempelajari secara mendalam hakikatnya, meyakini dan berbuah pengamalan. Sedangkan untuk Akhlak adalah: Memahami standar perbuatan manusia dan aplikasi praktis dalam keteladanan kehidupan sehari-hari.
  1. B. Saran-saran
Penelitian ini masih perlu pembahasan yang lebih komprehensif, mendalam dan membutuhkan ketelitian yang tinggi. Karena itulah kepada peneliti selanjutnya diharapkan agar bisa melakukan penelitian yang lebih baik, berupa pendalaman terhadap objek penelitian tersebut.
Pendalaman pada aspek teoritis, berupa referensi yang lebih beragam dengan objektifitas tinggi. Adapun pendalaman pada aspek praktis, berupa penggalian pesan intelektual terhadap makna akidah dan akhlak dalam refleksi kehidupan umat Islam dewasa ini, termasuk kepada civitas akademik.
Melakukan pengujian konsep yang telah ditemukan, bisa dilakukan ketika penelitian ini telah diperdalam oleh peneliti selanjutnya, setelah itu kajian konsep yang telah matang bisa langsung diwacanakan dan diaplikasikan kepada kaum intelektual, termasuk civitas akademik. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin

DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’ân dan Terjemahnya, Departemen Agama RI.
An-Nabhâni, Taqiyuddîn. 2001. Nizhâm al-Islâm, cet. VI (mu’tamadah). t.tp. Min Mansyûrât Hizb at-Tahrir.
. 1994. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Juz Awwal, cet. IV. Beirut: Dâr al-Ummah.
. 2005. Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah Juz ats-Tsâlits, cet. III (mu’tamadah). Beirut: Dâr al-Ummah. (PDF Document)

. 2006. At-Tafkîr (Hakekat Berfikir, alih bahasa oleh: Taqiyuddin as-Siba’i), cet. II. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
. 1989. Mitsâq al-Ummah, t.tp. t.p. (PDF Document)
. 2001. Mafâhîm Hizb at-Tahrîr, cet. VI (mu’tamadah). t.tp. Min Mansyûrât Hizb at-Tahrir.
. 2001. At-Takatul al-Hizbiy, cet. IV (mu’tamadah). t.tp. Min Mansyûrat Hizb at-Tahrîr.
Abdurrahman, Hafidz. 2004. Diskursus Islam Politik Spiritual, cet. I. Bogor: al-Azhar Press.
. 2004. Menyoal Akidah atau Khilafah (rubrik soal jawab), Majalah Dakwah al-Wa’ie No. 49. 01 September 2004.
Ali al-Hasan, Muhammad. 2007. Al-Manâr fi ‘Ulûm al-Qur’ân (Pengantar Ilmu-ilmu al-Quran, alih bahasa oleh: Mahbubah), cet. I. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
Al-Jurjani, Ali bin Muhammad. t.t. At-Ta’rifat, t.tp. t.p. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ast-Tsani)
An-Nawawi Al-Jawi, Muhammad. t.t. Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Semarang: Maktabah Karya Toha Putra.
. t.t. Mirqâh Shu’ûd at-Tasdîq Fi Syarh Sulam at-Tawfîq, Semarang: Maktabah Karya Toha Putra.
Abdul Lathif, Ali. 1422 H. At-Tawhid li an-Nasyiah wa al-Mubtadi’in, cet.I, Wijarah asy-Syu’un al-Islamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
Al-Humaid Al-Atsariy, Abdul. 1422 H. Al-Wajiz fi ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih, cet. I, Wijarah asy-Syu’un al-Islamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
‘Athiyat, Ahmad. 2006. Ath-Tharîq (Jalan Baru Islam, alih bahasa oleh: Dede Koswara), cet. II. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.
Ath-Thabariy, Abu Ja’far. 2000. Al-Jâmi’ al-Bayân Fi Ta’wîl al-Qur’ân, juz. XXIII. cet. I, (editor: Muhammad Syakir), t.tmp: Muassasah ar-Risalah. (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
Al-Mahally & As-Suyuthi, Imamayn. t.t. Tafsîr Jalâlayn, juz. II. t.tp. t.p. (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
Bisri, Cik Hasan. 2001. Penuntun Penyusunan Rencana Penelitian dan Penulisan Skripsi: Bidang Ilmu Agama Islam, cet. I. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.
Faizh Almath, Muhammad. 2003. Qabasun Min Nuri Muhammad saw (1100 Hadits Terpilih, alih bahasa oleh: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. XIX. Jakarta: Gema Insani Press.
Hasan, Al-Humashi. M. 1999. Tafsîr wa Bayân Mufradât al-Qur’ân, cet. I. Beirut: Muassasah al-Îmân.
Husain Abdullah, Muhammad. 1990. Dirâsât fi al-Fikr al-Islâmiy, cet. I. ’Amman: Dâr al-Bayâriq.
. 2003. Mafahim Islamiyah (alih bahasa oleh: M. Romli), cet. I. Bangil-Jatim: al-Izzah.
Hatimah dkk, Ihat. 2007.  Penelitian Pendidikan, cet. I. Bandung: UPI Press
Hizbut Tahrir. 2005. Min Muqawwimat an-Nafsiyyah al-Islamiyyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah, alih bahasa oleh: Ust. Yasin), cet. II. Jakarta Selatan: HTI Press.
Ibn Shalih Al-Utsaimin, Muhammad. t.t. Nubdzah fi al-’Aqidah al-Islamiyyah, t.tp. t.p.
Ibnu Katsir, Abu Fida. 1999. Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, Juz. VIII. cet. VIII, (editor. Muhammad Salamah), t.tp: Dar ath-Thayyibah. (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
Ibn Khalil, Syaikh ‘Atha. 1998. Taysîr al-Wushûl Ila al-Ushûl, cet. III, Beirut: Dar al-Ummah.
Ismâil, Muhammad. 1958. al-Fikr al-Islâmiy, Beirut: Likutubah al-Wa’yi.
Ismail Yusanto, M., Rahmat Kurnia, M., Riza Rosadi, M., Sigit Purnawan, M., Arif Yunus, M., & Karebet Widjajakusuma, M. 2004. Menggagas Pendidikan Islami, cet. I. Bogor: al-Azhar Press.
Magfur W, Muhammad. 2002. Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, cet. I. Bangil – Jatim: al-Izzah.
Mansur, Hasan, Al-Wahab Khairudin, A. & ‘Anani, Musthafa. t.t. Ad-Dîn al-Islâmiy juz al-Awwal, Gontor – Ponorogo: Dar as-Salam.
Qal’ah Jiy, Muhammad. 1988. Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, cet. II, Beirut: Dar an-Nafa’is. (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
Syukriy, Yûsuf Farhât. 2000. Mu’jam at-Tullâb (’arabiy-’arabiy), cet. I. Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyyah.
Samarah, Ihsan. 2003. at-Ta’rîf bi asy-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni (Syaikh Taqiyuddin, Meneropong Perjalanan Spiritual dan Dakwahnya. Alih bahasa oleh: M. Siddiq al-Jawi), cet. II. Bogor: Al-Azhar Press.
Sulaiman Al-Asyqar, Umar. 2005. Asmâ’ al-Husnâ al-Hâdiyah ila Allah wa al-Ma’rifah bihi (Al-Asma Al-Husna, alih bahasa: Syamsuddin & Hasan Suaidi), cet. II, Jakarta: Qisthi Press.
Tim LDK (Lembaga Dakwah Kampus). 2007. Materi Dasar Islam: Islam Mulai dari Akar ke Daunnya, cet. I. Bogor: Al-Azhar Press.
Tim Penulis Hizbut Tahrir Indonesia. 2002. Menegakkan Syariat Islam, cet. I. t.tp: Hizbut Tahrir Indonesia.
Warson, Munawwir. 2002. al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, cet. XXV. Surabaya: Pustaka Progresif.
Yasin, Abu. 2004. Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Khilafah. Alih bahasa oleh: Ahmad Fahrurozy), cet. I. Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.

[1] Hafidz Abdurrahman, Menyoal Akidah atau Khilafah (rubrik soal jawab), Majalah Dakwah al-Wa’ie No. 49 01/09/2004.

[2] Dr. M. Faiz Almath, Qabasun Min Nur Muhammad saw (ed. Indonesia: 1100 Hadits Terpilih, alih bahasa: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. 19, Gema Insani Press – Jakarta 2003, hlm. 260
[3] Ibid. hlm. 267
[4] Dikutip dari buletin remaja Gaul Islam, edisi. 006/ Thn I. hlm. 2-3
[5] Asy-Syaikh Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, Nubdzah fi al-’Aqidah al-Islamiyyah, t.p, t.t. hlm. 2
[6] Al-Imam Muhammad an-Nawawi al-Jawi, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 5
[7] Ibid, hlm.  5
[8] Al-Jurjani, at-Ta’rifat, t.p. t.t. hlm. 6 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[9] Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, op. cit., hlm. 5
[10] Taqiyuddin An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet. VI, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir – t.p, 2001. hlm. 129
[11] Dr Muhammad Hasan al-Humashi, Tafsîr wa Bayân Mufradât al-Qur’ân, Muassasah al-Îmân – Beirut, cet.1, 1999, hlm. 277
[12] Dr. M. Faiz Almath, op, cit., hlm. 19
[13] Ali Ibn Muhammad Al-Jurjani, at-Ta’rifat, hlm. 19 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[14] Hafidz Abdurrahman MA, Diskursus Islam Politik Spiritual, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2004. hlm. 1
[15] Abu Yasin, Usus at-Ta’lim fi Daulah al-Khilafah (Strategi Pendidikan Negara Khilafah, alih bahasa: Ahmad Fahrurozi), cet I, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor, 2004, hlm. 11
[16] Taqiyuddin An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 269
[17] Cik Hasan Bisri, Penuntun Penyusunan Rencana Penlitian dan Penulisan Skripsi – Bidang Ilmu Agama Islam, cet. I. PT. RajaGrafindo Persada – Jakarta, 2001. hlm. 60
[18] Ibid, hlm. 63
[19] Ihat Hatimah dkk,  Penelitian Pendidikan, cet. I. UPI Press – Bandung, 2007. hlm. 192-193
[20] Ibid, hlm. 192
[21] Ibid.
[22] Cik Hasan Bisri, op. cit., hlm. 65-66
[23] Ibid, hlm. 66-67
[24] Dr. Yusuf  Syukriy Farhat. Mu’jam at-Tullâb, cet. I. Dar al-Kutub al-’Ilmiyyah – Beirut, 2000. hlm. 401
[25] Muhammad Maghfur W. MA., Koreksi atas Kesalahan Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, cet. I, Al-Izzah – Bangil, 2002. hlm. 244
[26] Hafidz Abdurrahman MA, Islam Politik Spiritual, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2004. hlm. 116
[27] Abdul Lathif, at-Tawhid li an-Nasyiah wa al-Mubtadi’in, cet.I, Wijarah asy-Syu’un al-Islamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H. hlm. 20 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[28] Al-Humaid al-Atsariy, al-Wajiz fi ‘Aqidah as-Salaf ash-Shalih, cet. I, Wijarah asy-Syu’un al-Islamiyyah – al-Mamlakah al-Arabiyyah as-Su’udiyyah, 1422 H. hlm. 11 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[29] Dr. Muhammad Qal’ajiy, Mu’jam Lughah al-Fuqahâ’, cet. II, Dar an-Nafa’is – Beirut, 1988. hlm. 75 dan 318 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[30] Al-Imam Muhammad an-Nawawi al-Jawi, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t. hlm. 8
[31] Al-Jurjani, at-Ta’rifat, t.p. t.t. hlm. 12 (Al-Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[32] Dr. Muhammad Husain Abdullah, Dirâsât fi al-Fikr al-Islâmiy, cet. I. Dâr al-Bayâriq’ – ‘Amman, 1990, hlm. 35
[33] Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 114
[34] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 35-36
[35] Tim LDK (Lembaga Dakwah Kampus), Materi Dasar Islam; Islam Mulai dari Akar ke Daunnya, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2007. hlm. 3
[36] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 32
[37] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 22 (CD al-Maktabah Asy-Syamilah versi 2)
[38] Ibid.
[39] Ibid, hlm. 24
[40] Ibid, hlm. 39; lebih lanjut lihat: Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, Asmâ’ al-Husnâ al-Hâdiyah ila Allah wa al-Ma’rifah bihi (Al-Asma Al-Husna, alih bahasa: Syamsuddin & Hasan Suaidi), cet. II, Qisthi Press – Jakarta, 2005 hlm. 1-367; Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja (lihat: ar-Riyâd al-Badî’ah), Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 3 – 6
[41] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 27
[42] Tim Penulis, Menegakkan Syariat Islam, cet. I. Hizbut Tahrir Indonesia –  t.tp. 2002. hlm. 8
[43] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 43
[44] Ibid
[45] Ibid. hlm.44
[46] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 38; Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, op. cit., hlm. 7; Abdul Lathif, op. cit., hlm. 45; Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, Nubdzah fi al-’Aqidah al-Islamiyyah, t.p, t.t. hlm. 29-30
[47] Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, op. cit., hlm. 9-10
[48] Al-Humaid al-Atsariy, op. cit., hlm. 58
[49] Dr. Muhammad Ali Al-Hasan, Al-Manar fi Ulum al-Qur’an (Pengantar Ilmu-ilmu al-Quran, alih bahasa: Mahbubah), cet. I, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor, 2007. hlm. 5
[50] Dr. M. Faiz Almath, op, cit., hlm. 19
[51] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 55; Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, op. cit., hlm. 10-11
[52] Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Syarh Sulam at-Tawfîq, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 8
[53] Ibid, Syarh Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t. hlm. 11
[54] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t (lihat terjemah Depag).
[55] Abdul Lathif, op. cit., hlm. 55
[56] Ibid, hlm. 68; lihat juga: Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Kasifah as-Saja ‘ala Safinah an-Naja, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t. hlm. 11-12
[57] Muhammad Ibn Shalih al-Utsaimin, op. cit., t.p, t.t. hlm. 44-45
[58] Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 130
[59] Ibid, hlm. 137
[60] Hafidz Abdurrahman MA., op. cit., hlm. 139
[61] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 39-40
[62] Tim LDK (Lembaga Dakwah Kampus), Materi Dasar Islam; Islam Mulai dari Akar ke Daunnya,op. cit., hlm. 161 cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2007. hlm. 49; Hafidz Abdurrahman MA.,
[63] Ibid, hlm. 146
[64] Dr. Yusuf  Syukriy Farhat. op. cit., hlm. 168
[65] Abu Hamid Al-Ghazali, Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, t.p. t.t. juz II. hlm. 253 (CD Maktabah Asy-Syamilah versi 2)
[66] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 52
[67] Abu Ja’far Ath-Thabariy, al-Jâmi’ al-Bayân Fi Ta’wîl al-Qur’ân, cet. I, (ed, Muhammad Syakir), Muassasah ar-Risalah, t.tp., 2000. juz. XXIII. hlm. 528-529 (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[68] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, cet. 8, (ed. Muhammad Salamah), Dar ath-Thayyibah, t.tp., 1999. juz. VIII. hlm. 189 (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[69] Imamayn Al-Mahally dan As-Suyuthi, Tafsîr Jalâlayn, t.p. t.t., juz. II. hlm. 273 (Maktabah Asy-Syamilah Ishdar Ats-Tsani)
[70] Dr. Muhammad Husain Abdullah, op. cit., hlm. 9
[71] Ibid, hlm. 52
[72] Lihat: Al-Imam Muhammad An-Nawawi al-Jawi, Syarh Sulam at-Tawfîq, Maktabah Karya Toha Putra – Semarang, t.t hlm. 58-85
[73] Lihat: Hizbut Tahrir, Min Muqawwimat an-Nafsiyah al-Islamiyyah – Bab Akhlak (Pilar-Pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah. terj: Ust. Yasin), cet.II, Hizbut Tahrir Indonesia – Jakarta Selatan, 2005. hlm. 254 -288
[74] Dr. M. Faiz Almath, Qabasun Min Nur Muhammad saw (ed. Indonesia: 1100 Hadits Pilihan, alih bahasa: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. 19, Gema Insani Press – Jakarta 2003, hlm. 138
[75] Lihat: Hizbut Tahrir, op. cit., hlm. 288-362
[76] Ihsan Samarah, At-Ta’rîf bi asy-Syaikh Taqiyuddîn an-Nabhâni (Syaikh Taqiyuddin, Meneropong Perjalanan Spiritual & Dakwahnya. terj: M. Siddiq al-Jawi), cet. II. 2003. al-Azhar Press-Bogor. hlm. 5-35
[77] Ibid
[78] An-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 29
[79] Ibid, Mitsâq al-Ummah, t.p., 1989. hlm. 4 (PDF Document)
[80] An-Nabhani, op. cit., hlm. 29
[81] Ibid, hlm. 30-31
[82] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 6-7
[83] Ibid, hlm. 11
[84] Ibid, hlm. 9-10
[85] Ibid, hlm. 11
[86] Yang dimaksud ahlussunnah disini bukan ahlussunnah mazhab fikih
[87] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 15
[88] Ibid, hlm. 16
[89] Ibid, hlm. 16-18
[90] Ibid
[91] Ibid, hlm. 17
[92] Ibid, hlm. 17-18
[93] Ibid, hlm. 19-21
[94] Ibid, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 30-31; Lihat: At-Tafkir (Hakikat Berfifir, terj: As-Siba’i), cet. II, PTI – Bogor, 2006. hlm. 77-78
[95] Lihat: An-Nabhani, op. cit., hlm. 112-120; Lihat: Muhammad Maghfur W. MA. op. cit. hlm. 265-266; Prof. Dr. Umar Sulaiman al-Asyqar, op. cit., hlm. 12-13
[96] Lihat: An-Nabhani, op. cit., hlm. 38-43
[97] Ibid, hlm. 268
[98] Ibid, hlm. 268
[99] An-Nahbani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 129
[100] Ibid. hlm. 129-130
[101] Dr. M Husain Abdullah, Dirâsât fi al-Fikr al-Islâmiy, cet. I. Dâr al-Bayâriq’ – ‘Amman, 1990, hlm. 53
[102] An-Nabhani, Mafahaim Hizb at-Tahrir, cet. VI, Min Mansyurat Hizb at-Tahrir – t.tp. 2001. hlm. 40
[103] Hafidz Abdurrahman MA., Diskursus Islam Politik Spiritual, cet. I, Al-Azhar Press – Bogor, 2004. hlm. 88
[104] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.tp., 2001. hlm. 131
[105] An-Nabhani, asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Juz ats-Tsâlits, cet. Dar al-Ummah – Beirut. 2005. hlm. 15-16
[106] Lihat: Atha’ Ibn Khalil, Taysîr al-Wushûl Ila al-Ushûl, cet. III, Dar al-Ummah – Beirut. 1998. hlm. 11
[107] An-Nabhani, Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.p., 2001. hlm. 130
[108] An-Nabhani, Mitsaq al-Ummah, t.p., 1989. hlm. 14-15; Nizham al-Islam, cet.VI (mu’tamadah), Min Mansyurat Hizb at-Tahrir, t.p., 2001. hlm. 36-37
[109] Lihat: Ahmad ‘Athiyat, ath-Thariq (Jalan Baru Islam, terj: Dede Koswara), cet. II, Pustaka Thariqul Izzah – Bogor. 2006. hlm. 36
[110] An-Nabhani, asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah Juz ats-Tsâlits, cet. Dar al-Ummah – Beirut. 2005. hlm. 25
[111] Dr. M. Faiz Almath, Qabasun Min Nur Muhammad saw (ed. Indonesia: 1100 Hadits Terpilih, alih bahasa: A.Aziz Salim Basyarahil), cet. 19, Gema Insani Press – Jakarta 2003, hlm. 166
[112] Lihat: QS. Al-Zalzalah [99]: ayat 7-8
[113] Ibid, Asy-Syakhshiyyah al-Islamiyyah Juz Awwal, cet. IV, Dar al-Ummah – Beirut, 1994. hlm. 268
[114] Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-’Azhîm, cet. 8, (ed. Muhammad Salamah), Dar ath-Thayyibah, t.tp., 1999. juz. VI. hlm. 391

sumber : http://kuliahpemikiran.wordpress.com/2011/02/03/pemikiran-syaikh-taqiyuddin-an-nabhani-terhadap-bidang-studi-akidah-akhlak/
Short URL: http://infodakwah.host.org/?p=153
[bekamsteriljakarta.blogspot.com]

Description: Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak Reviewed By: Sigmund Freud Rating: 5.0
Rekomendasi:

KLINIK ALQANUN HERBACARE

Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak
Ahli Pengobatan THIBBUN NABAWI/Pengobatan Metode Nabi (Penggabungan Terapi Hijamah/bekam, Terapi Ruqyah Ghoib/Terapi Air Putih, Terapi Herbal Alami untuk menjaga kesehatan, menghilangkan potensi penyakit dalam diri (fisik/non fisik) MEDIS DAN NON MEDIS dan menyembuhkan berbagai macam penyakit berat seperti : Stroke, Hipertensi/Darah Tinggi, Diabetes/Kencing Manis/Gula, Asam Urat/hiperuricemia (Gout/Pirai), Jantung, Kolesterol, Leher Bahu Kaku/Kejang, Migrain, Vertigo, Rehabilitasi Narkoba, Liver, Gagal Ginjal/Ginjal, Pengapuran, Prostat, Bronkitis, Kanker, Gatal Darah Kotor, Sulit Buang Air Besar, Rematik, Lumpuh, Sipilis, Raja Singa, Mandul, Impoten/Lemah Syahwat, Sinusitis, Insomnia, Nyeri Kepala, hiperkolesterolemia, Parkinson, Epilepsy, Varises, Wasir (Hemoroid), dan semua keluhan sakit (rematik, ischialgia/sciatica, nyeri pinggang bawah), penyakit darah (leukemia, thalasemia), Tinnitus, Asma, Alergi, Penyakit sistim imun (SLE, HIV), Infeksi (Hepatitis, elefantiasis, koreng), Glaukoma, Insomnia, enuresis/mengompol, Mania, Skizofren dan Trans (gangguan sihir/jin), dll. Begitu juga bekam untuk kesuburan (Fertilitas) dan Kecantikan (menghilangkan jerawat, komedo, vitiligo, menurunkan berat badan, dll). CALL CENTER (0852-2512-7300) untuk Terapi Bekam/Fasdu/AlFashdu + Ruqyah + Herbal Alami panggilan kerumah (HOME CARE THERAPY daerah DKI JAKARTA dan Sekitarnya). Segera hubungi Tabib Thibbun Nabawi (Ustadz Abu Qanun) Ahli Pengobatan Utama bukan Pengobatan Alternatif...karena KESEHATAN ADALAH INVESTASI MASA DEPAN Anda dan TAK TERNILAI HARGA-nya. Mau tahu KEAMPUHAN PENYEMBUHAN THIBBUN NABAWI/METODE PENGOBATAN NABI? KLIK DISINI!
Anda sedang membaca artikel tentang

Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak

Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://www.bekamsteriljakarta.com/2012/04/pemikiran-syaikh-taqiyuddin-nabhani.html. Anda boleh menyebarluaskan / meng-copypaste-nya jika artikel "Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak" ini sangat bermanfaat bagi teman-teman Anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak sebagai sumbernya. Thanks!

,

0 Responses So Far:

Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak

Bagaimana komentar anda tentang Pemikiran Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani Terhadap Bidang Studi Akidah Akhlak