Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja | Klinik Terapi Pengobatan Bekam Panggilan di Jakarta Selatan Timur Utara Selatan Pusat

Klinik Terapi Bekam Panggilan di Jakarta Selatan Timur Utara Barat Pusat


Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja 0

Abu Qanun | Senin, Februari 27, 2012
Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja
Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja

KARTINI
Cerpen Putu Wijaya

Subuh hari pintu rumah Amat digedor. Seorang tetangga muda muncul di depan pintu dengan muka berbinar-binar.
“Pak Amat, anak saya sudah lahir, selamat dan sehat.”

Darah Amat yang tadinya sudah naik langsung surut.
“Bagus! Selamat! Anak pertama kan?!
“Betul Pak Amat. Tolong!”
“Tolong?”
“Kasih nama. Saya belum punya nama.”

Amat cepat berpikir. Hari Kartini baru saja lewat. Ia langsung menggapai.
“Beri nama Kartini!”

Bapak muda itu terpesona. Amat langusng cepat mengguncang tangannya.
“Tak usah nama yang muluk-mulul, apa artinya nama, biar anak itu sendiri uang mengubah namanya,. Siapa pun kamu sebut dia, kalau dia dididik dengan baik, dia akan jadi sejarah yang berguna bagi otang banyak. Selamat!”

Anak muda itu masih bengong, tapi Amat tidak memberinya kesempatan bertanya lagi, langusng menutupkan pintu lagi.
“Lagi asyik-asyiknya, ada saja yang ganggu. Masak subuh-subuh begini nanya minta nama segala, “kata Amat sembari masuk kamar menghampiri Bu Amat. “Kalau belum siap punya anak, kenapa bikin anak. Masak nama saja bingung, Nanti kalau beli susu, periksa dokter, pasti lebih bingung lagi. Sudah sampai di mana kita tadi, Bu?”

Bu ternyata sudah tidur pulas kembali. Amat kecewa berat.
Tapu besoknya Bu Amat malah marah-marah.
“Bapak keterlaluan!”
“Lho, bukannya Ibu yang keterlaluan! Baru ditinggal sebentar sudah ngorok lagi!”
“Masak ngasih nama anak orang Kartini.”
“Lho, memang kenapa? Ibu Raden Ajeng Kartini kan orang besar. Tokoh sejarah. Nama itu bukan soal sepele. Memberi nama anak harus dengan cita-cita, akan jadi apa anak itu kelak. Ibu Kartini kan sudah berjasa membangkitkan kaum perempuan di Indonesia supaya percaya diri. Dia itu hebat, Bu!”
“Memang. Tapi tidak semua orang yang namanya Kartini bisa seperti RA Kartini!”
“Makanya yang namanya usaha itu penting, jangan hanya bergantung dari nama tok. Itu namanya klenik. Nama sakti juga kalau pendidikannya tidak becus jadi sampah. Lihat itu anak tetangga kita namanya Gajah Mada, mau bapaknya supaya jadi orang besar, eh nyatanya cumakusir dokar.”
“Mendingan Gajah Mada. Jelas. Kok Kartini!”
“Lho tidak bisa dibandingkan begitu, Bu. Sebesar-besar Gajah Mada, orang Sunda benci sama dia. Sementara Kartini, walau pun hanya bangsawan Jawa, tapi perjuangannya sangat berarti untuk membebaskan kaum perempuan di seluruh Indonesia yang sampai sekarang nasibnya masih di bawah telapak kaki lelaki!”
“Betul! Tapi kalau anak laki diberi nama Kartini, itu namanya sudah sinting!”

Amat terkejut.
“Lho, jadi anaknya laki-laki?”
“Sejak 5 bulan lalu dokter sudah bilang lelaki. Kok kasih nama Kartini?”

Amat bengong. Ia cepat memakai sandal dan bergegas ke rumah tetangga itu. Anak muda itu sudah hampir hendak berangkat ke klinik bersalin membawa perlengkapan untuk istri dan anaknya.
“Terimakasih Pak Amat.”
Amat jadi salah tingkah. Dengan malu dia mengulurkan tangan minta maaf.
“Maaf, Bapak tidak tahu. Aku memberikan nama sembarangan. Jangan pakai nama itu!”
“Tidak apa Pak Amat. What is a name. Saya berterimakasih sekali Pak Amat tidak marah digedor subuh begitu. Namanya bagus.”

Amat bingung.
“Lho jangan ngasih nama anakmu Kartini!”
“Tapi Raden Ajeng Kartini kan pahlawan Pak Amat. Saya harap nanti anak saya akan berguna kepada bangsa seperti Kartini.”
“Jangan! Kenapa mesti kasih nama Kartini!”
“Itu kan pemberian dari Pak Amat?”
“Jabis aku kan tidak tahu,. asal nyeplos saja!.”

Anak muda itu tertawa.
“Nama Kartini itu bagus, Pak!”
“Jangan!”

Anak muda itu tertawa lagi lalu pergi..
“Aku kira dia tersingung dan menyindir. Masak aku kasih nama anak lakinya dengan nama perempuan,” curhat Amat malam hari di meja makan.
“Makanya kalau ngomong jangan sembarangan,”kata Bu Amat, “anak itu sudah kaulan, apa pun nama yang diberikan oleh orang pada anaknya akan dia pakai. sebab sudah 11 tahun menikah belum punya anak.”

Amat terperanjat.
“Jadi dia serius akan memberi nama putranya Kartini?”
“Iya iyalah!”

Amat tak jadi makan. Ia merasa bersalah. Ia menunggu di depan rumah sampai larut malam. Ketika anak muda itu pulang dari klinik, ia langsung menyapa.
“Gus, Kartini tadi datang menemui Bapak.”

Anak muda itu terkejut.
“Siapa Pak?”
“Raden Ajeng Kartini.”

Anak muda itu tersenyum. Amat langsung mencecer.
“Boleh lanjutkan perjuanganku, bebaskan perempuan-perempuan Indonesia dari penindasan, kata RA Kartini. Merdekakan kaumku agar mendapat perlakuan setara dengan kaum lelaki. Tetapi tidak perlu menjadi lelaki. Hakekat perempuan tetap perempuan, lelaki tetap lelaki, karena itu laki perempuan akan bertemu untuk saling melengkapi. Kalau kamu menjadikan perempuan lelaki dan lelaki itu perempuan, kamu sudah menodai perjuanganku!”

Anak muda itu mengangguk
“Saya mengerti maksud Pak Amat.”
“Kalau begitu jangan kasih nama anakmu Kartini!”
“Tidak bisa Pak, sudah dicatatkan dalam akte kelahirannya.”
“Tapi kamu tidak boleh mengubah anak lelaki menjadi perempuan!”
“Anak saya perempuan Pak, bukan lelaki seperti yang diramalkan oleh Dokter.”

Baca Juga Cerpen Pendidikan yang lainnya.

Description: Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja Reviewed By: Sigmund Freud Rating: 5.0
Rekomendasi:

KLINIK ALQANUN HERBACARE

Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja
Ahli Pengobatan THIBBUN NABAWI/Pengobatan Metode Nabi (Penggabungan Terapi Hijamah/bekam, Terapi Ruqyah Ghoib/Terapi Air Putih, Terapi Herbal Alami untuk menjaga kesehatan, menghilangkan potensi penyakit dalam diri (fisik/non fisik) MEDIS DAN NON MEDIS dan menyembuhkan berbagai macam penyakit berat seperti : Stroke, Hipertensi/Darah Tinggi, Diabetes/Kencing Manis/Gula, Asam Urat/hiperuricemia (Gout/Pirai), Jantung, Kolesterol, Leher Bahu Kaku/Kejang, Migrain, Vertigo, Rehabilitasi Narkoba, Liver, Gagal Ginjal/Ginjal, Pengapuran, Prostat, Bronkitis, Kanker, Gatal Darah Kotor, Sulit Buang Air Besar, Rematik, Lumpuh, Sipilis, Raja Singa, Mandul, Impoten/Lemah Syahwat, Sinusitis, Insomnia, Nyeri Kepala, hiperkolesterolemia, Parkinson, Epilepsy, Varises, Wasir (Hemoroid), dan semua keluhan sakit (rematik, ischialgia/sciatica, nyeri pinggang bawah), penyakit darah (leukemia, thalasemia), Tinnitus, Asma, Alergi, Penyakit sistim imun (SLE, HIV), Infeksi (Hepatitis, elefantiasis, koreng), Glaukoma, Insomnia, enuresis/mengompol, Mania, Skizofren dan Trans (gangguan sihir/jin), dll. Begitu juga bekam untuk kesuburan (Fertilitas) dan Kecantikan (menghilangkan jerawat, komedo, vitiligo, menurunkan berat badan, dll). CALL CENTER (0852-2512-7300) untuk Terapi Bekam/Fasdu/AlFashdu + Ruqyah + Herbal Alami panggilan kerumah (HOME CARE THERAPY daerah DKI JAKARTA dan Sekitarnya). Segera hubungi Tabib Thibbun Nabawi (Ustadz Abu Qanun) Ahli Pengobatan Utama bukan Pengobatan Alternatif...karena KESEHATAN ADALAH INVESTASI MASA DEPAN Anda dan TAK TERNILAI HARGA-nya. Mau tahu KEAMPUHAN PENYEMBUHAN THIBBUN NABAWI/METODE PENGOBATAN NABI? KLIK DISINI!
Anda sedang membaca artikel tentang

Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja

Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://www.bekamsteriljakarta.com/2012/02/kartini-cerpen-putu-wijaya-cerpen.html. Anda boleh menyebarluaskan / meng-copypaste-nya jika artikel "Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja" ini sangat bermanfaat bagi teman-teman Anda, namun jangan lupa untuk meletakkan link Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja sebagai sumbernya. Thanks!

0 Responses So Far:

Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja

Bagaimana komentar anda tentang Kartini - Cerpen Putu Wijaya - Cerpen Remaja : Cerita Pendek Remaja